Uji Validitas dan Reliabilitas Instrumen Penelitian dengan SPSS

274 komentar
Share:

Uji Validitas Item adalah uji statistik yang digunakan guna menentukan seberapa valid suatu item pertanyaan mengukur variabel yang diteliti. Uji Reliabilitas item adalah uji statistik yang digunakan guna menentukan reliabilitas serangkaian item pertanyaan dalam kehandalannya mengukur suatu variabel.


1. Uji Validitas

Uji Validitas Item atau butir dapat dilakukan dengan menggunakan software SPSS.[1] Untuk proses ini, akan digunakan Uji Korelasi Pearson Product Moment. Dalam uji ini, setiap item akan diuji relasinya dengan skor total variabel yang dimaksud. Dalam hal ini masing-masing item yang ada di dalam variabel X dan Y akan diuji relasinya dengan skor total variabel tersebut.

Agar penelitian ini lebih teliti, sebuah item sebaiknya memiliki korelasi (r) dengan skor total masing-masing variabel ≥ 0,25.[2] Item yang punya r hitung < 0,25 akan disingkirkan akibat mereka tidak melakukan pengukuran secara sama dengan yang dimaksud oleh skor total skala dan lebih jauh lagi, tidak memiliki kontribusi dengan pengukuran seseorang jika bukan malah mengacaukan.

Cara melakukan Uji Validitas dengan SPSS:

  1. Buat skor total masing-masing variable.
  2. Klik Analyze > Correlate > Bivariate
  3. Masukkan seluruh item variable x ke Variables
  4. Masukkan total skor variable x ke Variables
  5. Ceklis Pearson ; Two Tailed ; Flag
  6. Klik OK
  7. Lihat kolom terakhir. Nilai >= 0,25.
  8. Lakukan hal serupa untuk Variabel Y.


2. Uji Reliabilitas

Uji Reliabilitas dilakukan dengan uji Alpha Cronbach. Rumus Alpha Cronbach sebagai berikut:


Note:


Jika nilai alpha > 0,7 artinya reliabilitas mencukupi (sufficient reliability) sementara jika alpha > 0,80 ini mensugestikan seluruh item reliabel dan seluruh tes secara konsisten secara internal karena memiliki reliabilitas yang kuat.[3] Atau, ada pula yang memaknakannya sebagai berikut:

  • Jika alpha > 0,90 maka reliabilitas sempurna
  • Jika alpha antara 0,70 – 0,90 maka reliabilitas tinggi
  • Jika alpha antara 0,50 – 0,70 maka reliabilitas moderat
  • Jika alpha < 0,50 maka reliabilitas rendah[4]


Jika alpha rendah, kemungkinan satu atau beberapa item tidak reliabel: Segera identifikasi dengan prosedur analisis per item. Item Analysis adalah kelanjutan dari tes Aplha sebelumnya guna melihat item-item tertentu yang tidak reliabel. Lewat ItemAnalysis ini maka satu atau beberapa item yang tidak reliabel dapat dibuang sehingga Alpha dapat lebih tinggi lagi nilainya.

Reliabilitas item diuji dengan melihat Koefisien Alpha dengan melakukan Reliability Analysis dengan SPSS ver. 16.0 for Windows. Akan dilihat nilai Alpha-Cronbach untuk reliabilitas keseluruhan item dalam satu variabel. Agar lebih teliti, dengan menggunakan SPSS, juga akan dilihat kolom Corrected Item Total Correlation.

Nilai tiap-tiap item sebaiknya ≥ 0.40 sehingga membuktikan bahwa item tersebut dapat dikatakan punya reliabilitas Konsistensi Internal.[5] Item-item yang punya koefisien korelasi < 0.40 akan dibuang kemudian Uji Reliabilitas item diulang dengan tidak menyertakan item yang tidak reliabel tersebut. Demikian terus dilakukan hingga Koefisien Reliabilitas masing-masing item adalah ≥ 0.40.

Cara Uji Reliabilitas dengan SPSS:

  1. Klik Analyze > Scale > Reliability Analysis
  2. Masukkan seluruh item Variabel X ke Items
  3. Pastikan pada Model terpilih Alpha
  4. Klik OK

Jika nilai alpha > 0,7 artinya reliabilitas mencukupi (sufficient reliability) sementara jika alpha > 0,80 ini mensugestikan seluruh item reliabel dan seluruh tes secara konsisten secara internal karena memiliki reliabilitas yang kuat.[6] Atau, ada pula yang memaknakannya sebagai berikut:

  • Jika alpha > 0,90 maka reliabilitas sempurna
  • Jika alpha antara 0,70 – 0,90 maka reliabilitas tinggi
  • Jika alpha antara 0,50 – 0,70 maka reliabilitas moderat
  • Jika alpha < 0,50 maka reliabilitas rendah[7]

----------------------------

Referensi
[1] David D. Vaus, Analyzing Social Science Data: 50 Key Problems in Data Analysis, (Thousand Oaks: Sage Publications, 2002) p.31-9.
[2] Marguerite G. Lodico, Dean T. Spaulding, Katherine H. Voegtle, Methods in Educational Research: From Theory to Practice (San Fransisco: John Wiley & Sons, Inc., 2006) p.211.
[3] Sebastian Rainsch, Dynamic Strategic Analysis: Demystifying Simple Success Strategies (Wiesbaden: Deutscher Universitasts-Verlag, 2004) p.167.
[4] Perry Roy Hilton and Charlotte Brownlow, SPSS Explained, (East Sussex : Routledge, 2004) p.364.
[5] John W. Lounsbury, Lucy W.Gibson, Richard A. Saudargas, “Scale Development” dalam Frederick T.L. Leong and James T. Austin, The Psychology Research Handbook: A Guide for Graduate Students and Research Assistants (Thousand Oaks: Sage Publications, Inc., 2006) p.144.
[6] Sebastian Rainsch, Dynamic ..., loc.cit.
[7] Perry Roy Hilton and Charlotte Brownlow, SPSS ...., op.cit. p. 364.

tags:



uji validitas item dengan spss uji reliabilitas item dengan spss menentukan nilai validitas item menentukan nilai reliabilitas item skor total variabel

274 komentar:

  1. Whui...statistik... berhasil melewatinya dengan tertatih-tatih semester kemarin. Tapi masih belum paham SPSS.

    Insyaallah nanti mau menjelajah lagi. Kayaknya banyak yang menarik nih. Ku-link ya =D

    Thanks sudah mampir ke blog saya =D

    BalasHapus
  2. Salam kenal Pak. Saya Mirza. Saya mau tanya, validitas yang yang dihitung melalui korelasi skor butir-total masuk dalam jenis validitas yang mana ya? Validitas isi, konstruk atau kriteria? Setahu saya Korelasi butir total itu menunjukkan daya diskriminasi butir saja.
    Terima kasih atas responsnya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Salam kenal juga. Kiranya masuk ke dalam validitas konstruk. Kendati demikian uji validitas ini cuma salah satunya, penting tapi tidak mencukupi guna mengukur validitas yang sesungguhnya. Hal terpokok yang penting dilakukan adalah pemastian validitas isi dalam desain penelitian.

      Hapus
    2. Terima kasih atas informasinya Pak. Kalau saya simpulkan, berarti validitas isi terpenuhi dulu sebelum uji validitas konstruk melalui korelasi butir total dilakukan, ya pak.

      Hapus
    3. Ya. Validitas isi (utamanya face-validity) dipenuhi. Mungkin berdasarkan acuan teori (buku rujukan), penelitian yang sudah pernah ada, dan didiskusikan dengan ahli (dosen pembimbing skripsi/tesis/disertasi) ataupun pakar di bidang konsep penelitian termaksud.

      Hapus
  3. pak seta. saya seorang mahasiswi, ingin bertanya. apakah ada validitas logik/ logical validity? kalau ada apakah benar menghitungnya dengan corrected item total correlation?? terimakasih.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ada. Validitas ini utamanya mengandalkan judgment (penilaian) ahli. Ada penulis statistik yang memasukkan Face Validity dan Content Validity ke dalam Logical Validity ini. Namun, pengukurannya dengan statistik (seperti dengan corrected item-total correlation) belum ada referensi yang memadai. Mungkin ada pendapat lain?
      Sama-sama. Semoga bermanfaat.

      Hapus
  4. salam kenal pak,
    ini saya mau bertanya tentang content validity..
    bagaimana cara menghitung content validity index ya pak??
    terima kasih pak.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Content Validity Index (CVI) dimaksudkan mengukur sejauh mana "konten" merepresentasikan "domain." Dalam hal ini, "konten" adalah instrumen sementara "domain" adalah konsep yang hendak diukur.

      Umumnya, CVI diukur dari pendapat 2 ahli di bidang "konsep" yang hendak diukur. Masing-masing ahli menilai (secara independen satu sama lain) kesesuaian item dengan konsep yang hendak diukur. Mereka menggunakan 4 skala rating: 1 = jika tidak relevan; 2 = jika agak relevan; 3 = jika cukup relevan; 4 = jika sangat relevan. CVI dengan demikian ditentukan oleh proporsi cukup/sangat relevan dari masing-masing ahli tersebut.

      Hapus
  5. hallo pak, saya mw bertanya.. uji validitas saya liat ada yang misalnya df=36 , jdi pakai itu trus liat r tabel, tp ada juga yang df=36-2=34, jdi sebenarnya yang benar itu yang mana pak?? thx

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kalau yang dimuat dalam artikel menggunakan Pearson correlation, perhubungan skor masing-masing item dengan skor total variabel. Nilai korelasi yang digunakan menggunakan penetapan dari sumber Methods in Educational Research: From Theory to Practice (Marguerite Lodico, et.al.) yaitu >= 0,25 (dengan sig. < 0,05).

      Hapus
    2. maaf pak saya mau tanya. saya baca di artikel lain kalau r tabel-nya disesuaikan dgn jumlah item jadi tidak selalu 0,25. jadi yang mana yg benar ya pak? trims

      Hapus
    3. Apabila menggunakan r-tabel penentuannya adalah perbandingan antara nilai r-hitung dengan r-tabel. Jadi, memang tidak menggunakan patokan 0,25. Patokan 0,25 adalah patokan kelayakan (ada pula yang menggunakan 0,20). Anda boleh memilih antara menggunakan nilai patokan atau perbandingan nilai r. Hal yang terpenting, referensinya mengapa menggunakan pilihan tersebut harus dicantumkan dalam catatan kaki di penelitian Anda.
      Sama-sama. Semoga bermanfaat.

      Hapus
  6. hallo kalo uji reliabilitas didasarkan pada cronbach alpha>0.8 atau rtabel?? thx before

    BalasHapus
    Balasan
    1. Jika total perangkat item per satu variabel dilihat Cronbach Alpha-nya, dan penafsirannya (dalam artikel di atas) mengikut patokan pada Dynamic Strategic Analysis: Demystifying Simple Success Strategies (Sebastian Rainsch). Untuk mengoreksi nilai Cronbach Alpha yang terlampau kecil dilihat corrected-item-total-correlation, yang sebaiknya >=0,40 masing-masingnya.

      Hapus
  7. gmn caranya menghitung regresi linier sederhana pak?? saya punya 8 pernyataan untuk variabel X dan 8 pernyataan untuk variabel Y.. sudah dpt data .. trus gmn?? dibagian spss-nya.. analyze>regression>linear.. yang saya ambil untuk nilai Xnya gmn ya?? trus nilai Ynya gmn ya?? apakah total X atau total rata-rata X dimasukan ke spssnya..thx pak..

    BalasHapus
    Balasan
    1. SPSS tidak secara spesifik menyediakan fasilitas uji Regresi Linier Sederhana (1 VB) ataupun Berganda (> 1 VB). Kamu cukup masukkan VB (atau sejumlah VB) ke box yang tersedia dan VT ke box yang tersedia. Nah, data mana yang diinput? Kamu sebelumnya harus membuat Skor Total masing-masing VB dan VT. Misalnya untuk VB kamu sudah input Item#1 sampai 8. Cara membuat Skor Total VB gunakan menu Transform yaitu klik Transform > LIhat di jendela kiri kotak Transform > Klik Item1 > Pindahkan dengan klik icon (>) > Klik tanda + Lihat jendela kiri lagi > Klik item2 > Pindahkan dengan klik icon (>) > Klik tanda + > dan seterusnya dan jangan lupa beri nama Skor Total VB dengan mengisi kotak isian di pojok kiri kotak Transform. Demikian pula untuk membuat Skor Total VT.

      Setelah kamu selesai membuat Skor total masing-masing variabel dengan fasilitas Transform, barulah uji regresi dilakukan. Nanti yang dimasukkan adalah variabel-variabel baru itu, yaitu SkorTotalVB ke X dan SkorTotalVT ke Y. Demikian, semoga bermanfaat.

      Hapus
  8. asslamualakum, pak boleh bertanya, untuk melihat cronbach alfa per item menu apa saja yang kita "klik" di analisis? trimakasih,,

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wa'alaikumus salam.
      Klik Analyze > Scale > Reability Analysis > Masukkan butir-butir item > Statistics > Aktifkan fasilitas-fasilitas Item, Scale, Scale if item deleted, Correlations, None > Continue > Model Alpha > OK.
      Hasil outputnya akan mendetail.
      Selamat menganalisis. Semoga bermanfaat.

      Hapus
    2. terimksh banyak pak, sangat bermanfaat,,,

      Hapus
  9. asslmkm pak, mau tanya, bagaimana caranya untuk melihat distribusi normal atau tidak pada data hasil dari compute data? terimakasih,,

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wa'alaikumus salam.
      Bisa digunakan tes Kolmogorov-Smirnov. Tes ini akan membandingkan skor data sampel dengan mean dan standar deviasinya, distribusinya normal ataukah tidak. Jika nilai sig. hitung SPSS > 0,05 maka data berdistribusi normal. Jika sig. hitung SPSS < 0,05 maka data tidak berdistribusi normal.
      Sama-sama. Semoga bermanfaat.

      Hapus
  10. Bagi teman - teman yang masih kesulitan mengolah data dengan SPSS, kunjungi http://olahdatainstan.com/spss/?reg=angga-febry Tanpa perlu Kursus, Pelatihan atau mengikuti Workshop yang MAHAL. ayo kunjungi sekarang juga! ^_^

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bagi yang tertarik, ayo silakan berkunjung.

      Hapus
  11. salam kenal sebelumnya pak,
    saya ingin tanya, untuk nilai reliabilitas >0.25 pendapat dari siapa y pak, apa ada rangenya atau peringkat untuk menunjukkan kuat-lemahnya reliabilitas instrumen?
    terima kasih ^^,

    BalasHapus
    Balasan
    1. Jika yang dimaksud > 0,25, maka mungkin maksud Anda validitas. Pendapat tersebut diambil dari Marguerite G. Lodico, Dean T. Spaulding, Katherine H. Vogtle, Methods in Educational Research: From Theory to Practice (San Fransisco: John Wiley & Sons, Inc., 2006) p. 211. Kalau reliabilitas, tiap item bernilai >= 0,40 (lihat catatan kaki nomor 5). Untuk range reliabilitas (alpha cronbach), ada kategorisasi yang di buat Hilton and Brownlow (lihat artikel di atas), sumber catatan kaki nomor 7.
      Demikian. Semoga bermanfaat.

      Hapus
    2. terimakasih pak, sangat membantu =D

      Hapus
  12. pak..mau nanya....mencari outlier atau data pencilan dengan spss gimana cara nya ya...???

    BalasHapus
    Balasan
    1. Jika Anda melakukan exploratory data analysis:
      1. Klik Analyze > Descriptive Statistics > Explore
      2. Drag lalu tempatkan kolom berisi VT ke dalam Dependent List > OK.
      3. Buang setiap outlier yang dirujuk SPSS dalam stem-and-leaf plot (kotak plot) dengan menghapus titik-titik data yang masuk kategori outlier (bisa juga dengan cara mengeset filter, exclude data point).
      4. Pilih Data > Select Cases > Klik kondisi yang memiliki outlier. Tentuka nilai bagi kondisi outlier (ingat, hanya yang berkategori outlier saja).
      5. Pilih If Condition is Satisfied pada kotak Select > Klik tombol If. Masukkan aturan outlier yang hendak di-exclude (langkah 4). Misalnya, jika Anda hendak meng-exclude nilai di atas 50 pada kondisi "bawah" maka masukkan "bawah < = 50. Lalu klik Continue > OK. Filter pun efektif sekarang.

      Jika Anda melalukan Regresi:
      1. Klik Analyze > Regression > Linear > Masukkan VB dan VT yang hendak dianalisis.
      2. Klik Save > Pilih Cook's Distance > (hasil Cook's Distance ini adalah tersimpan sebagai variabel bernama COO-1.
      3. Jalankan boxplot dengan cara klik Graphs > Boxplot > Klik Simple > Pilih Summaries of Separate Variables > Masukkan COO-1 ke dalam kotak Boxes Represent > Masukkan nama kasus kita pada kotak Label Cases.
      4. Perbesar boxplot pada file output (dobel klik saja). Buat catatan pada data yang ada di luar garis hitam (inilah outlier). Anda bisa memilih untuk membuang seluruhnya atau hanya outlier yang ekstrim-ekstrim saja (tandanya bintang *).
      5. Kembali ke file data view Anda jika memang hendak melakukan penghapusan. Lihat dari bawah ke atas, tandai angka ekstrim di sebelah kiri > Klik Edit > Clear. Ulangi langkah ini untuk outlier-outlier lainnya (dari boxplot di langkah 3).
      Demikian. Semoga bermanfaat.

      Hapus
  13. Salam kenal sebelumnya pak, saya ingin tanya:
    Apa bisa mengetahui instrumen/ data penelitian kita sudah reliabel atau belum setelah pengambilan data? padahal instrumen tadi belum diuji reliabilitasnya sebelum pengambilan data berdasarkan pendapat Scarvia B. Anderson dan kawan-kawan di Arikunto (2001: 87) kalau sebuah tes yang valid biasanya reliabel.
    Kalau bisa, bagaimana caranya? terimakasih.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Salam kenal juga. Menurut pemahaman saya, reliabilitas instrumen boleh saja dilakukan setelah pengambilan data. Langkah ini guna mengukur seberapa besar reliabilitas dari instrumen yang kita gunakan. Umumnya, dalam hasil uji reliabilitas (misalnya dengan Alpha Cronbach) rata-rata memang demikian seperti disebut dalam Arikunto. Hanya saja, ada baiknya ditetapkan terlebih dahulu (dalam proposal penelitian) kisaran reliabilitas yang ditetapkan oleh peneliti. Dengan penetapan tersebut, maka hasil uji reliabilitas (setelah data dianalisis) dapat lebih mudah dideskripsikan. Mengenai caranya, silakan lihat artikel dan komentar-komentar di atas.
      Demikian. Semoga bermanfaat.

      Hapus
  14. Perlu menentukan validitas dan reliabilitas sebuah instrumen

    BalasHapus
  15. permisi slm hormat buat bapak..
    bgmn cara melakukan transformasi data menggunakan microsoft exel dgn hasil nilai 12345 dr stiap item pernyataan kuesioner per indikator harus sama. sy sudah berulang kali mencobany ttp tidak berhasil, selalu berbeda per indikatornya, terimaksih

    BalasHapus
    Balasan
    1. Maaf, bisa dijelaskan lebih lanjut mengenai " ... nilai 12345 dr stiap item pernyataan kuesioner per indikator harus sama." Saya tunggu, ya.

      Hapus
  16. dear mr seta,
    mau tanya apakah nilai standar menurut sugiyono uji validitas harus > 0,30 , dan uji realibilitas > dar 0.70 bisa di pakai dalam penelitian ?

    mohon pencarahannya yaa pak

    BalasHapus
    Balasan
    1. Validitas > 0,30 tentu saja bisa. Bahkan ada yang menganggap > 0,25 sudah cukup. Sementara reliabilitas > 0,70 juga bisa diterima, masuk ke dalam kategori tinggi itu. Demikian. Semoga bermanfaat.

      Hapus
  17. Assalamualaikum wr.wb
    salam kenal sebelumnya pak,
    saya mahasiswa yg sedang ambil tugas akhir dengan kuesioner.
    mau tanya, kalo ternyata responden nya hanya 4 (karena hanya ada 4 pekerja) itu pasti di lakukan sensus ya?

    nah kalo sensus itu masih perlu di uji validitas sama reliabilitas nya kah?

    sangat ditunggu balasannya. terimakasi sebelumnya :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wa'alaikumus salam. Ya, tentu saja seluruhnya diteliti menyerupai sensus. Uji validitas dan reliabilitas lebih berkenaan dengan instrumen penelitian, sehingga sebaiknya tetap diberlakukan.
      Sama-sama. Semoga bermanfaat.

      Hapus
    2. Terimakasih balasannya,
      setelah sy coba pake software spss, ternyata hasilnya ada yg positif ada yg negatif,
      yg negatif berarti ga valid ya?
      yg positif juga nilai nya dibawah R tabel.

      kira-kira solusinya gmn ya?

      seandainya sensus tanpa validasi boleh kah?

      Hapus
    3. Hasil tersebut kemungkinan besar akibat kecilnya jumlah kasus (dalam hal ini 4). Statistik punya kelemahan karena andal dengan prinsip "makin besar sampel, makin baik." Saran saya, muat saja hasil uji validitas dan reliabilitas Anda, lalu diskusikan dengan pembimbing skripsi. Validitas instrumen selain lewat uji statistik, juga bisa dilakukan lewat analisis pakar (face validity). Anggap saja pembimbing Anda seorang pakar. Di atas semua, alangkah baiknya, dengan jumlah populasi kecil (4 orang) metode analisis lebih ditekankan secara kualitatif. Analisis kualitatif punya keunggulan dalam hal kedalaman informasi.
      Demikian jawaban saya. Semoga bermanfaat.

      Hapus
    4. Sangat Bermanfaat.. Terimakasih tanggapannya. :)

      Hapus
  18. salam kenal pak, saya mahasiswa yang saat ini sedang mengambil skripsi. penelitian saya menggunakan data kuisioner dengan 12 pertanyaan, 2pertanyaan biodata, 2pertanyaan nilai kepentingan, 4pertanyaan produk/perusahaan, 3pertanyaan pemasaran untuk menentukan sebuah sistem marketing yang baik digunakan oleh perusahaan yang baru berdiri berdasarkan pendapat seluruh responden sekitar. saya menggunakan program spss untuk menghitung uji validitas dan reliabilitas. pada kasus saya hitungan pada spss mendapatkan beberapa hasil negatif. padahal responden saya sudah mencapai 120 lbh. kira-kira ini dikarenakan kenapa ya pak? terima kasih sebelumnya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Salam kenal juga.
      Perlu dipastikan, berapa variabel yang analisis? Juga, nilai negatif tersebut diperoleh tatkala melakukan uji validitas ataukah reliabilitas? Mungkin pada validitas. Uji validitas menggunakan uji korelasi (Pearson). Dalam uji ini, skor tiap-tiap item dikorelasikan dengan skor total masing-masing variabel (bukan skor seluruh variabel). Dalam uji korelasi, tentu ada nilai (+) dan (-). Jika nilainya (+) maka skor item bersifat positif terhadap skor total variabel. Sebaliknya, jika (-) maka skor item bersifat negatif terhadap skor total. Hal terpenting, Anda sudah menentukan berapa nilai batasnya, misalnya 0,20, 0,25, atau 0,40. Bergantung kepada referensi penelitian Anda, tentunya. Mengenai jumlah responden cukup besar, kiranya bukan masalah.
      Terima kasih kembali. Semoga bermanfaat.

      Hapus
  19. Siang Pak...
    pak, cara uji validitas n reliabilitas degn SPSS 19 bgmana Pak?
    lalu kenapa suatu item nilainy valid tapi tdk reliabel,,dan suatu item tidak valid tapi reliabel?
    kok bisa bgitu pak?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Selamat siang.
      Wah, maaf ya. Saya belum pernah menggunakan SPSS 19. Paling saya pakai versi 16. Namun, menurut saya, kiranya serupa metodenya. Semoga.
      Untuk masalah valid dan reliabel, kira-kira seperti ini. Item valid apabila ia sama dengan atau lebih besar dari batas nilai validitas yang ditentukan peneliti (misalnya 0,25). Item reliabel apabila lebih besar atau setara dengan batas nilai yang ditentukan peneliti (misalnya 0,40). Untuk reliabilitas, umumnya hanya digunakan Alpha Cronbach, selaku nilai komprehensif dan dikategorikan (misalnya) seperti contoh di artikel sebelah atas.
      Suatu item disebut valid apabila item tersebut mengukur apa yang hendak diukurnya. Suatu item disebut reliabel apabila item tersebut akan sama hasil ukurnya jika alat ukur (item tersebut) digunakan di waktu-waktu yang berbeda. Dapat saja suatu item valid tetapi tidak reliabel, tidak valid tetapi reliabel, tidak valid dan tidak reliabel, serta (tentunya) valid dan reliabel (ini yang dikehendaki). Apapun hasil uji validitas dan reliabilitas, beritakan hal tersebut di penelitian kita apa adanya.
      Demikian. Semoga bermanfaat.

      Hapus
  20. Masukkan seluruh item variable x ke Variables
    Masukkan total skor variable x ke Variables

    pak tanya lagi ya pak.
    saya tak mengerti dengan kalimat "masukkan total skor variabel x ...."
    yang bisa dimasukkan hanya "seluruh item variabel x.."
    maksudnya bgmana pak?
    cara menyusun tabulasi skor angket nya bagaimana pak?
    sementara dosen pembimbing skripsi saya belum ditunjuk pak.
    terimaksih atas penjelasan bapak..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Umumnya, suatu penelitian terdiri atas 2 variabel (misalnya VB dan VT). VB diukur oleh sejumlah item pertanyaan (misalnya 10). Demikian pula VT (misalnya 10).
      "masukkan total skor variabel x ...." maksudnya adalah memasukkan jumlah total (angka) dari item 1 s/d 10 dari VB ke dalam kotak isian. Juga masukkan pula seluruh item (1 s/10) yaitu skor masing-masing item ke kotak isian. Hal ini dilakukan untuk (misalnya) melakukan uji validitas VB.
      Bagaimana dengan VT? Keluarkan semua VB dan item-itemnya dari kotak isian. Kemudian masukkan VT (skor total dan setiap itemnya) ke kotak isian.
      Untuk tabulasi skor angket langsung saja gunakan SPSS.
      Terima kasih kembali. Semoga bermanfaat.

      Hapus
  21. mo tanya pak..
    dalam uji validitas, apakah perbedaan menggunakan pearson, spearman dan kendal tau.. bedanya apa one tail sama two tail..
    maaf saya newbie

    BalasHapus
    Balasan
    1. Pearson digunakan apabila data berdistribusi normal, minimal berskala interval. Spearman digunakan apabila data tidak berdistribusi normal, maksimal berskala Ordinal. Kendal-tau digunakan sama seperti Spearman, tetapi data penelitian cukup kecil dan banyak nilai rangkin yang sama.
      One Tailed adalah pilihan test apabila peneliti sudah menentukan arah hubungan antarvariabel (misalnya hubungan positif atau negatif). Two Tailed adalah pilihan test apabila peneliti belum menentukan arah hubungan antarvariabel (belum ditentukan apakah negatif ataukah positif).
      Pertanyaannya, dari mana arah hubungan ditentukan atau belum ditentukan? Dari Teori yang digunakan. Jika teori (dari buku atau penelitian lain) menyebut "Terdapat hubungan positif antara X dengan Y" maka hipotesisnya One Tailed. Jika teori menyebut "Terdapat hubungan antara X dengan Y" maka hipotesisnya Two Tailed.
      Demikian. Semoga bermanfaat.

      Hapus
  22. mau tanya pak, sebenarnya uji reliabilitas (cronbach alpha) itu perlu ngga sih pak apabila kita menggunakan kuesioner yg di adaptasi dari peneliti sebelumnya?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Jika dari penelitian sebelumnya sudah diuji, dan ada hasilnya, maka sebaiknya pada sub Uji Relibilitas kita kutip saja. Diskusikan dengan dosen pembimbing. Namun, umumnya dosen pembimbing akan menilai terlebih dahulu kredibilitas dari si peneliti yang melakukan uji tersebut. Apabila sang dosen ragu, maka Anda ada baiknya melakukan uji relibilitas ulang.
      Demikian. Semoga bermanfaat.

      Hapus
  23. Selamat pagi, Pak.
    saya mahasiswi sedang mengambil skripsi tentang reliability.
    saya ingin tanya, data apa saja yg saya perlu untuk cari/ dapatkan sebelum saya proses di software spss?
    lalu untuk perhitungan manual, rumus reliability manakah yg tepat?
    (saya mencari dan melihat perbedaan di berbagai sumber, untuk mencari nilai R)

    penelitian saya adalah mengenai sebuah stasiun kerja yg settingnya sering mengalami claim.
    (saya sudah dapat data waktu repair, dan jumlah repair per period)
    terima kasih
    mohon petunjuk, Pak.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hal utama yang dibutuhkan adalah seperangkat kuesioner yang sudah diisi. Hasil tersebut diinput ke dalam SPSS (di internet, banyak manual cara input datanya). Untuk manual menghitung reliabilitas, banyak orang menggunakan Alpha Cronbach. Namun, ada pula rumus-rumus lain seperti Split-Half, Guttman, Parallel, dan Strict parallel (semua tersedia di SPSS) dengan kelebihan dan kekurangannya masing-masing. Untuk manual dengan Alpha Cronbach, misalnya, Anda perlu mempersiapkan jumlah item pertanyaan yang akan diuji, jumlah varians skor item, dan varians skor-skor tes seluruh item pertanyaan yang diuji.
      Terima kasih kembali. Semoga bermanfaat.

      Hapus
  24. Selamat pagi pak, Mhn informasi apakah kuesioner utk menganalisis kualitas pelayanan dengan menggunakan 14 1ndikator dan bbrp sub indikator Indeks Kepuasan MasyarakatKepmenpan 25 Th 2004 masih di perlukan uji validitas,relibialitas ? Terima kasih.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Selamat pagi. Jika IKM versi Kemenpan tersebut pernah diuji reliabilitasnya dan hasilnya ada, cukup Anda kutip di proposal/laporan penelitian Anda. Namun, jika belum, ada baiknya Anda lakukan sendiri dengan responden Anda. Untuk itu, perlu didiskusikan terlebih dahulu dengan pembimbing penelitian Anda.
      Terima kasih kembali. Semoga bermanfaat.

      Hapus
  25. Waduh kayaknya susah tuh buat saya !
    simak saja deh gan ! and salam kenal :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Semoga bermanfaat. Salam kenal juga.

      Hapus
  26. mau tanya pak, misalkan salah satu variabel tidak valid dan reliabel dalam penelitian saya dengan bobot 4 dari STS=1 hingga SS=4, dan saya menggunakan analisis skala likert dengan ukuran persentase angka 0-25% lemah dan seterusnya hingga 81-100% kuat untuk mengukur kepuasan peserta. apakah saya harus mengeliminasi variabel yang tidak valid tersebut? sedangkan dari salah satu seminar yang sebelumnya diteliti seluruh variabel valid dan reliabel. penelitian saya isi variabel independen sarana dan prasarana,pembicara,moderator dan variabel dependen secara pribadi. terima kasih mohon petunjuknya :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Mohon diperiksa kembali, apakah yang tidak valid tersebut "variabel" ataukan "salah satu item kuesioner variabel" ? Jikalau demikian, maka Anda cukup mengeliminasi item tersebut dan melakukan uji validitas/reliabilitas kembali. Namun, apabila Anda memiliki referensi yang menyatakan bahwa perangkat kuesioner Anda valid dan reliabel menurut suatu sumber, maka harus dikutip di dalam desain penelitian. Ada baiknya Anda konsultasi dengan pembimbing penelitian mengenai hal ini. Seyogyanya, uji validitas tetap dilakukan karena sampel penelitian yang digunakan peneliti "terdahulu" berbeda dengan yang Anda teliti saat ini.
      Demikian. Semoga bermanfaat.

      Hapus
  27. Pak Seta, mau tanya apakah Uji Validitas dan Reliabilitas dapat dilakukan untuk kuisioner yang model jawabannya adalah YA dan TIDAK atau PUAS dan TIDAK PUAS. artinya dalam kuisioner tidak ada skor yang didapat (misalkan 1 sampai 4)-- catatan: hasil kuisioner saya ke 110 rumah tangga sudah saya olah dengan excel biasa.

    sekarang saya kesulitan untuk menguji validitas dan reliabilitasnya.

    mohon pencerahan.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Skala Likert umumnya menggunakan lebih dari 2 pilihan jawaban. Kendati demikian, jikalau seorang peneliti berkeyakinan bahwa 2 pilihan jawaban adalah cukup untuk detail penelitian, hal tersebut tidak mengapa. Berlakukan saja uji validitad dan reliabilitas seperti biasa.
      Demikian. Semoga bermanfaat.

      Hapus
  28. Pak saya mau tanya, di pnelitian TA saya hanya menggunakan 6 responden krena itu adalah 6 org operator yang menjalankan pekerjaan yang sya teliti,item pertanyaan ada 20, lalu uji validitas dan reliabilitasnya pakai yg mana, pearson, kendal t, atau spearman?
    Terima kasih sebelumnya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Jika hanya melihat jumlah responden yang kecil, maka Kendall-tau adalah yang lebih cocok. Namun, Anda dapat pula mempertimbangkan penggunaan uji validitas bercorak Face Validity, dengan mana cukup kita gunakan pendapat ahli (tentu dengan persetujuan pembimbing penelitian kamu.)
      Sama-sama. Semoga bermanfaat.

      Hapus
    2. Dengan jumlah subyek penelitian sebesar itu, tentu Kendall-tau yang lebih cocok. Namun, selain uji validitas yang bercorak statistik, dapat pula dipertimbangkan pengujian bercorak 'face validity.' Namun, tentu saja dengan persetujuan pembimbing skripsi Anda terlebih dahulu.
      Sama-sama. Semoga bermanfaat.

      Hapus
  29. neni
    siang pak, saya mau bertanya didalam penelitian saya,saya mengalami kraguan masalah menguji,yang ingin saya tanyakan disini uji apa yang harus saya gunakan judulnya; hubungan bekerja diluar jam sekolah tehadap prestasi belajar siswa ?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Selamat siang. Judul kamu "hubungan bekerja di luar jam sekolah dengan prestasi belajar siswa." Jika ada kata "hubungan" dapat dikatakan bermakna "korelasi," maka uji kamu adalah uji "korelasi." Mengenai uji korelasi mana yang hendak dipakai, bergantung pada skala pengukuran kamu. Di sini mungkin kamu punya 2 variabel yaitu "bekerja di luar jam" sebagai X dan "prestasi belajar siswa" sebagai Y. Jika X kamu ukur dalam skala interval dan Y dalam skala interval, maka uji korelasi yang bisa kamu gunakan adalah Pearson. Jika skala X adalah ordinal dan Y skalanya adalah interval, maka uji korelasi yang kamu gunakan adalah Spearman. Dengan demikian, hal terpenting untuk ditentukan lebih awal adalah, skala pengukuran variabel kamu (apakah nominal, ordinal, interval, ataukah rasio). Setelah itu, juga dilihat berapa sampel yang kamu gunakan.
      Demikian. Semoga bermanfaat.

      Hapus
  30. siang pak,,,,,
    saya mau bertanya tentang judul saya yang bunyi judulnya; hubungan biaya yang dikeluarkan orang tua terhadap hasil belajar anak kelas 7 smp negri 3 kampar,jadi uji apa yang harus saya lakukan ?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Selamat siang. Judul Anda "hubungan biaya yang dikeluarkan orang tua dengan hasil belajar anak kelas 7 SMP Negeri 3 Kampar." Dari kata 'hubungan' maka dapat ditaksir Anda melalukan uji 'korelasi.' Terdapat 2 variabel penelitian Anda yaitu "biaya yang dikeluarkan" sebagai X dan "hasil belajar" sebagai Y. Variabel X (biaya) dapat diukur dalam skala rasio. Variabel Y (hasil belajar) dapat diukur dalam skala rasio. Dengan skala rasio-rasio dan jika data Anda berdistribusi normal, dapat digunakan Uji Korelasi Pearson.
      Demikian. Semoga bermanfaat.

      Hapus
  31. pak mau tanya nih, uji reliabilitas itu harus dilakukan uji validitas juga gak? atau salah satu saja boleh?
    thanks

    BalasHapus
    Balasan
    1. Uji Validitas dan Uji Reliabilitas adalah saling melengkapi. Sebaiknya keduanya dilakukan. Mengenai jenis uji validitas atau reliabilitas yang diterapkan, masih dapat diperdebatkan jenis mana yang akan digunakan. Namun, kedua proses uji tersebut seyogyanya tetap dilakukan.
      Sama-sama. Semoga bermanfaat.

      Hapus
  32. selamat sore Pak, trimakasih atas postingannya. saya baru mempelajari spss, dan masih belum mengetahui bagaimana menguji validitas kuesioner bila berupa variabel kategorik dan menggunakan spearman, bagaimana langkah pengerjaan hingga interpretasinya hingga item2 tersebut dinyatakan valid/tidak valid? serta bagaimana uji reliabilitasnya? trimakasih banyak sebelumnya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Selamat sore. Hasil pengujian dengan Pearson dan Spearman tidak terlampau jauh perbedaan hasilnya. Hal-hal yang perlu Anda lakukan adalah menginput data mentah dari kuesioner Anda ke SPSS. Misalnya, Anda menggunakan 2 variabel yaitu X dan Y. Setelah kuesioner selesai diinput, cari total variabel X (diperoleh dari penjumlahan seluruh item yang ada di variabel X). Juga, carilah total variabel Y, dengan cara serupa sebelumnya.
      Korelasikan item-item di variabel X dengan skor total variabel X. Simpan hasil (output)nya. Keluarkan item-item dan skor total variabel X. Kemudian masukkan item-item variabel Y dan korelasikan. Simpan hasil (output)nya.
      Dalam mengintrepetasi item valid/tidak valid, gunakan nilai yang >= 0,25 (dalam tulisan ini, dan ada sejumlah ahli yang menggunakan nilai berbeda seperti 0,20 ataupun 0,30). Item-item yang punya korelasi dengan skor total variabel < 0,25 dianggap tidak valid dan sebab itu dikesampingkan dari perhitungan. Misalnya pada pengujian variabel X ada item nomor 5 yang punya nilai korelasi 0,17 dengan skor total. Keluarkan item tersebut dengan cara menghitung ulang skor total variabel X tanpa mengikutsertakan item tersebut lalu lihat korelasi akhir di hasil (output). Demikian diteruskan sehingga tidak ada lagi item dalam variabel yang punya nilai korelasi dengan skor total < 0,25.
      Untuk uji reliabilitas, gunakan saja Alpha Cronbach. Caranya lihat di artikel bagian atas. Dalam uji reliabilitas, yang dimasukkan hanya item-item dalam variabel (skor total tidak diikutsertakan).
      Demikian. Semoga bermanfaat.

      Hapus
  33. mau tanya pak, untung mengerjakan uji validitas atau realibilitas secara manual seperti apa yang bentuknya ?
    trims

    BalasHapus
    Balasan
    1. Uji validitas secara manual sesungguhnya bisa saja. Pada prinsip nya adalah melakukan korelasi antara skor tiap-tiap item dengan skor total variabel. Misalnya, suatu variabel X punya 10 item pertanyaan. Korelasikan item 1 dengan skor total variabel X, item 2 dengan skor total variabel X, dst ... dst. Problem dengan perhitungan manual adalah sangat melelahkan. Ada baiknya Anda menggunakan software pembantu kerja, MS Excel misalnya. Demikian pula dengan uji reliabilitas. Gunakan rumus Alpha Cronbach seperti di artikel. Gunakan MS Excel jika kita kurang familiar dengan SPSS.

      Hapus
  34. Pak kalau dlm suatu vriable item pertanyaannya cuma 1,uji rliabilitasnya bagaimana? ,pdhal d spss pling sdikit hrus memasukan 2 item d prhitungnya,trima kasih.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Memang tidak bisa bisa diuji reliabilitasnya. Metode lainnya untuk variabel semacam ini adalah test-retest reliability. Artinya, dilihat sejumlah penelitian (mungkin 3 atau lebih) yang menggunakan instrumen serupa. Kemudian dilihat apakah ada konsistensi hasil pengukuran di waktu penelitian yang berbeda tersebut?
      Sama-sama. Semoga bermanfaat.

      Hapus
  35. Selamat sore pak, saya sedang mengerjakan Tugas akhir saya, mau tanya pak, maaf agak menyimpang dari tema sebenarnya, kalau saya studi populasi (responden dr kuesioner saya seluruh populasi, jd bukan sampling), apakah perlu uji kecukupan data pak? terima kasih sebelumnya pak.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Menurut saya tidak perlu. Seluruh atribut unik yang hendak diteliti ada di seluruh "sampel" kita. Dan, itulah kelebihan dari "complete enumeration method" atau sensus ini.
      Sama-sama. Semoga bermanfaat.

      Hapus
  36. siang pak...
    salam kenal sebelumnya...
    saya mhasiswi sedang mlakukan pengolahan data,,
    saya menggunakan kuesioner tingkat pengetahuan yang diadopt dr pnelitian sbelumnya dgn jumlah soal 14,, akan ttapi dlam kuesioner tsb ada 3klmpk kriteria pnilaian nya,, klpm I(skor 0dan 1),klp II(0,1,2) dan yang terakhir tiap jwaban bnar diberi nilai 1,,
    jdi bgaimana cara uji validitas dan reabilitas ny pak,, apakah dikelompokkan??????
    karena jika sekaligus hsilnya tdak valid dan tdk reliabel...
    terima kasih pak sebelumnya...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Selamat siang. Salam kenal juga.
      Mungkin dapat diperjelas mengenai kelompok kriteria penilaian tersebut. Misalnya, untuk kelompok 1 yaitu 0 dan 1; kelompok 2 yaitu 0, 1, dan 2; untuk kelompok 3 bagaimana ?
      Sama-sama. Semoga bermanfaat.

      Hapus
  37. Assalamualaikum.,
    mau tanya.,
    kalau cuma 1 pertanyaan dalam kuesioner apa bisa dilakukan uji validitas..?
    yang tepat dengan uji apa.,
    trimakasih sebelumnya..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wa'alaykumus salaam.
      Menurut saya bisa saja. Secara kualitatif melalui face validity dengan mana seorang peneliti meminta pendapat ahli (bisa pakar, dosen, atau merujuk pada buku-buku teori) apakah pertanyaan mengukur indikator atau variabel penelitian. Juga secara kuantitatif lewat uji validitas di dalam artikel di atas.
      Sama-sama. Semoga bermanfaat.

      Hapus
    2. assalamualaikum wr wb.
      lalu cara melakukan pengujian validitas dan reliabilitasnya gmn pak?sy kn pake variabel lama usaha berdiri,jd cm ada satu pertanyaan.

      Hapus
    3. Untuk uji validitas gunakan face validity. Misalnya pendapat pakar atau pembimbing penelitian Anda karena umumnya pembimbing penelitian adalah personal yang dianggap oleh pihak perguruan tinggi sebagai expert di bidang pembimbingannya. Untuk uji reliabilitas dapat Anda mengutip penelitian-penelitian yang dahulu pernah diadakan di dalam masalah yang sama dan dalam antar waktu memiliki reliabilitas. Cukup kutipan hasil penelitiannya saja.
      Demikian. Semoga bermanfaat.

      Hapus
  38. selamat sore, mau nanya :D

    kalau uji validitas menggunakan spearman, apakah langkahnya sama dengan pearson ?
    lalu, angka yg mana yang menunjukkan bahwa item kuisioner tersebut sudah valid ?
    dan kalau uji reliabilitasnya menggunakan spearman brown, bagaimana ya langkah-langkahnya ?

    terima kasih sebelumnya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Selamat sore. Uji validitas dengan Spearman langkah intinya serupa: mengorelasikan antara skor item dengan skor total variabel. Demikian pula penetapan skor mana yang dianggap valid dan tidaknya (lihat artikel di bagian atas). Uji reliabilitas juga bisa menggunakan Spearman-Brown. Spearman-Brown masuk kategori split-half reliability. Kuncinya, kita membagi item-item kuesioner menjadi dua bagian: satu bagian nomor ganjil, satu bagian genap, secara acak. Korelasi yang terjadi antar kedua bagian tersebut menjadi sumber penetapan reliabilitas item.
      Sama-sama. Semoga bermanfaat.

      Hapus
  39. selamat pagi pak. saya sebentar lagi pendadaran..dan ada jawaban yang belum saya ketahui.
    kenapa uji validitas harus score loading 0,5? apakah ada dasar teori nya juga..
    terima kasih.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Selamat pagi.
      Mengenai "score loading" 0,5 khususnya dan nilai validitas umumnya terdapat sejumlah variasi pendapat. Dalam interval-interval uji korelasi umumnya akan Anda dapati bahwa nilai 0,5 adalah masuk kategori korelasi moderat-agak kuat. Bahkan terdapat peneliti seperti Marguerite Lodico, et.al. yang menyebut bahwa >=0,25 masih dapat dianggap valid. Lihat Marguerite G. Lodico, Dean T. Spaulding, Katherine H. Voegtle, Methods in Educational Research: From Theory to Practice (San Fransisco: John Wiley & Sons, Inc., 2006) p.211.
      Sama-sama. Semoga bermanfaat.

      Hapus
  40. Pagi pak

    untuk Analisis Konjoin, uji validitas dan reliabilitasnya cukup dgn Pearson dan Kendall kan pa?
    Hasil itu diperoleh langsung dari proses spss konjoin,

    BalasHapus
    Balasan
    1. Selamat pagi. Apabila hal tersebut telah melukiskan hubungan antara skor item dengan skor total variabel maka dapat dijadikan dasar uji validitas. Untuk uji reliabilitas saya menyarankan Alpha Cronbach dan Split-half karena keumuman digunakannya.
      Demikian. Semoga bermanfaat.

      Hapus
  41. pak td kn kl cuma ada 1 pertanyaan pake metode test-retest reliability..itu caranya seperti apa?soalnya saya pk variabel lama usaha perusahaan.dan itu kn cuma ada satu pertanyaan.jd gmn cara melakukan uji validitas dan reliabilitas?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Satu pertanyaan untuk mengukur hanya dirinya sendiri. Demikian kiranya apabila penelitian Anda hanya menggunakan 1 pertanyaan saja. Untuk uji reliabilitas dapat Anda mengutip penelitian-penelitian yang dahulu pernah diadakan di dalam masalah yang sama dan dalam antar waktu memiliki reliabilitas. Cukup kutipan hasil penelitiannya saja.
      Demikian. Semoga bermanfaat.

      Hapus
  42. Salam kenal. SD. Varian dan Variansi. tks

    BalasHapus
    Balasan
    1. Salam kenal juga untuk Anda. Maksudnya SD, varian dan variansi yang seperti apa?

      Hapus
  43. Salam kenal untuk uji validitas angket, sepertinya cenderung ke content validity dan validitas konstruk nya. yang sudah batrang tentu mendapat penilaian dan expert judgement. Tolong beri info apa yang dimaksud variansi, standar deviasi serta fungsinya untuk apa? tks

    BalasHapus
    Balasan
    1. Salam kenal juga untuk Anda. Variansi (mungkin maksudnya variance atau kerap varians) adalah rata-rata error antara nilai mean dengan nilai observasi. Nilai varians diperoleh dari pembagian antara nilai Sum of Squared Errors (SS) dengan jumlah nilai observasi dikurangi 1. Namun, nilai varians ini tidak lain merupakan nilai pangkat sehingga dianggap bukan nilai unit analitis yang sesungguhnya. Sebab itu kerap peneliti mengambil nilai akar dari varians ini. Akar dari varians adalah Standar Deviation (SD). SD mengukur jarak antara mean asli suatu data penelitian dengan mean total penelitian. Semakin besar jarak SD suatu data semakin jauh (dianggap) mean data sampel dengan mean data populasi.
      Sama-sama. Semoga bermanfaat.

      Hapus
  44. mau tanya pak, saya uji reliabel ternyata hasilnya negatif.
    apakah ini pengaruh dari jumlah pertanyaan kuesioner, soalnya jumlah pertanyaan variabel yang hasilnya negatif itu cuma 2 pertanyaan.
    sedangkan variabel lain yang jumlah pertanyaannya lebih dari 2 itu hasilnya positif (baik-baik saja).. terima kasih..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Dalam uji reliabilitas ini apakah Anda melihat nilai total keseluruhan (Alpha) ataukah yang negatif tersebut adalah item-item tertentu? Apabila totalnya maka sebaiknya Anda tidak menggunakan variabel tersebut karena tidak reliabel. Untuk menyeledikinya cobalah ceklis pilihan item-corrected saat mengkil Reliability Analysis pada SPSS.
      Sama-sama. Semoga bermanfaat.

      Hapus
  45. ak, kalau kita punya jawaban hasil kuesioner dalam skala ordinal, akan diuji validitas dan reliabilitasnya. apakah skala ordinal tersebut harus diubah ke skala interval dulu baru baru diuji pak? kenapa? hehehe terimakasih

    BalasHapus
    Balasan
    1. Anda dapat mengubah skala ordinal tersebut ke skala interval dengan menggunakan rumus MSI (Method of Succesive Interval). Anda browsing saja via Google dan kemungkinan besar ada file excel yang dapat diunduh sehingga kita tinggal menginput data penelitian saja. Kenapa? Karena uji validitas ini menggunakan uji Pearson.
      Sama-sama. Semoga bermanfaat.

      Hapus
  46. Assalamu'alaikum,..
    maaf mengganggu pak,..
    SAYA Andi mau nanya,..

    1. Bagaimana cara melakukan uji validitas dan reliabilitas dengan menggunakan skala GUTTMAN yang sampelnya hanya 13 orang responden.??

    2. apakah uji univariat dan bivariat bisa dilakukan dengan SPSS apabila penyebaran kuesionernya hanya satu kali saja,.??

    TERIMA KASIH SEBELUMNYA PAK,.
    MOHON PENCERAHANNYA,..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wa'alaykumus salaam.
      (1) (1) Formula Guttman untuk reliability analysys adalah penggunaan Pearson terhadap metode split-half. Ini dengan asumsi bahwa varians-varians dari kedua cerukan adalah setara (equal). Jika tidak sama maka gunakanlah rumus berikut:
      roe = 2[1 - (σO^ - σE^) / σX^]
      Atau pada SPSS tinggal pilih Guttman pada penentuan uji reliabilitas.
      (2) Sesungguhnya, untuk uji reliabilitas adalah lebih dari satu kali persebaran. Reliabilitas adalah antar waktu, instrumen mengukur secara tetap. Namun, keterbatasan waktu penelitian (utamanya skripsi) membuat uji reliabilitas umumnya hanya menggunakan uji reliabilitas ini (alpha, split-half, guttman).
      Sama-sama. Semoga bermanfaat.

      Hapus
  47. selamat sore pak seta, mau tanya..apakah bila uji validitas dan reliabilitas tidak terpenuhi/tercapai ada uji lain yang bisa dilakukan untuk uji butir soal?
    terus apabila hanya dibuang apakah ada pendapat yang mendasari? mohon bantuannya...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Selamat sore.
      Apabila uji validitas tidak terpenuhi hal yang dilakukan adalah membuang butir yang tidak valid kemudian melakukan uji validitas kembali. Alasan seperti inilah yang membuat desain instrumen penelitian dalam 1 indikator variabel haruslah lebih dari 1 (bahkan ada yang membuat 5 hingga 10). Karena apabila 1 atau beberapa butir tidak valid, masih ada butir lain yang bisa dipergunakan. Untuk uji reliabilitas sebaiknya dilakukan saja dan yang terpenting peneliti menafsirkan data apa adanya yaitu apakah reliabilitas rendah, moderat atau tinggi sesusai nilai yang tertera di dalam hasil uji reliabilitas.
      Dalam hal pembuangan item, hal tersebut adalah umum dalam proses analisis data. Namun, apabila referensi yang dikehendaki maka dapat saya sebutkan misalnya Muhammad Nisfiannoor, Pendekatan Statistika Modern untuk Ilmu Sosial (Jakarta: Salemba Humanika, 2009).
      Demikian. Semoga bermanfaat.

      Hapus
  48. salam kenal, Pak.
    saya mau tanya.
    saya ingin menguji validitas dan realibilitas menggunakan spss (menguji validitas dengan KMO test).
    saya menggunakan 33 item dengan jumlah sampel 30.
    namun berkali-kali saya coba,nilai KMO tidak mau muncul.
    saya mencoba menguji validitas dengan korelasi r, namun di output spss tidak muncul TOTAL.

    apa yang salah dengan data saya ya pak?
    terima kasih.
    salam.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Salam kenal pula untuk Anda.
      Mungkin dapat Anda gambarkan variabel-variabel penelitian Anda. Dari 33 item tersebut, mana yang termasuk ke dalam variabel-variabel tertentu? Kemudian skala yang Anda pergunakan dalam instrumen penelitian Anda (nominal, ordinal, atau sejenisnya).
      Ditunggu pula masukannya. Semoga bermanfaat.

      Hapus
  49. salam kenal pak seta,
    saya masih baru dalam hal ini ingin sedikit bertanya,
    apakah bisa melihat validitas melalui perbandingan corrected item total correlation dengan r tabel? mengapa berbedanya dengan uji validitas spearman,pearson,dan kendal?
    terima kasih.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Salam kenal pula untuk Anda.
      Dalam uji validitas, yang diperbandingkan adalah korelasi setiap item dengan skor total variabel di mana item tersebut berada. Penetapan apakah suatu butir valid ataukah tidak, memang banyak perbedaan pendapat (silakan lihat di komentar-komentar bagian atas). Ada yang menyebut > 0,20 valid, ada pula yang >= 0,25. Bergantung pada pendapat dan alasan masing-masingnya. Sebenarnya, hasil perhitungan ketiganya tidak jauh berbeda (dapat Anda coba). Prinsipnya, asumsi dalam melakukan uji validitas ini yang dihitung adalah "angka" bukan "responden." Sebab itu, misi dari uji validitas adalah menguji skor item dengan skor total seluruh item di dalam variabel tempat item tersebut berada. Sebab itu, banyak peneliti menggunakan Pearson selaku uji validitas dengan Pearson ini ketimbang uji lainnya.
      Sama-sama. Semoga bermanfaat.

      Hapus
  50. selamat sore pak, nama saya Anindya.
    maaf jika saya bertanya diluar konteks. saya sedang kesulitan menyelesaikan skripsi saya, saya mandek karena kuesioner saya memerlukan uji reliabilitas menggunakan program "ITEMAN", apakah pak seta punya rekomendasi situs untuk download program tersebut.
    Terima kasih..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Selamat sore.
      Sebenarnya dapat langsung search via Google dengan kata kunci "download iteman". Atau dapat langsung dowload student versionnya di alamat:
      http://www.assess.com/xcart/product.php?productid=417
      Selamat berkunjung.

      Hapus
  51. selamat sore pak, nama saya Anindya.
    maaf jika saya bertanya diluar konteks. saya sedang kesulitan menyelesaikan skripsi saya, saya mandek karena kuesioner saya memerlukan uji reliabilitas menggunakan program "ITEMAN", apakah pak seta punya rekomendasi situs untuk download program tersebut.
    Terima kasih..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Selamat sore.
      Sudah dijawab di komentar atas, ya.
      Semoga bermanfaat.

      Hapus
  52. selamat sore pak, nama sya ema mau bertanya kenapa harus menghitung validitas, reabilitas, taraf kesukaran, dan daya beda ?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Selamat sore.
      Uji validitas dilakukan guna mengetahui apakah "alat ukur" (yaitu item-item pernyataan dalam kuesioner) mengukur "apa yang hendak diukur." Caranya tidak semata-mata lewat uji statistik, tetapi bisa pula lewat penilaian pakar (face validity). Tujuannya, hanya item-item yang "mengukur" apa yang hendak "diukur" saja yang dilanjutkan proses analisisnya. Uji reliabilitas (yang secara statistik) dilakukan guna mengetahui konsistensi internal seluruh item dalam seperangkat kuesioner. Apakah seluruh item secara padu melakukan proses pengukuran yang sama ataukah ada yang "menyempal". Tingkat kesukaran adalah suatu indeks yang merupakan proporsi berapa responden yang menjawab secara tepat dibagi dengan total responden yang melakukan penjawaban. Daya beda adalah kemampuan suatu item dalam instrumen penelitian (kuesioner) guna melakukan pembedaan antara responden yang menjawab dengan nilai maksimum dengan minimum.
      Demikian. Semoga bermanfaat.

      Hapus
  53. selamat siang pak seta,
    saya mahasiswa yg saat ini sdang menempuh skripsi kuantitatif.
    mau bertanya sesuatu pak..sampel penelitian saya 182 responden pak, sampel uji coba saya bisa atau tidak, jika diambil dari sebagian sampel penelitian?
    lalu yang kedua, dalam penelitian ini saya harus menggunakan regresi ganda,apa ada masukan untuk metode tersebut pak, jujur saja saya masih belum begitu memahami.
    terimakasih.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Selamat siang.
      Sebaiknya diambil dari responden tersebut. Karena toh nantinya mereka akan menjadi subyek penelitian, bukan? Mengenai penggunaan regresi berganda, semua terpulang pada perumusan masalah dan hipotesis penelitian yang diangkat. Dari sanalah penentuan uji-uji statistik diperoleh.
      Demikian. Semoga bermanfaat.

      Hapus
  54. selamat siang pak seta

    mau bertanya, untuk uji kuisioner sampel penelitian, apakah boleh dilakukan d tempat yg sama dgn tempat saya melakukan penelitian? Dan brapa jumlah sampel ideal yg diperlukan utk uji coba kuisioner dgn mengambil sampel penelitian yg ada?

    Jumlah sampel penelitian saya 133 orang.

    Mohon penjelasannya pak. Terima kasih

    BalasHapus
    Balasan
    1. Selamat siang.
      Sepemahaman saya, kiranya boleh saja. Untuk uji coba (tentu bukan yang sesungguhnya) dapat diambil 10% dari sampel. Tekniknya gunakan judgment, dengan mana peneliti meyakini bahwa responden "tester" akan memberikan masukan konstruktif atas kuesioner.
      Demikian. Semoga bermanfaat.

      Hapus
    2. Terima kasih banyak pak untuk jawaban nya, ada bbrapa hal lagi yang ingin ditanyakan

      Apakah sampel uji kuisioner trsebut dapat dipakai kembali sebagai sampel penelitian pak? Dan untuk teknik judgement dalam uji kuisioner sendiri apa ada referensinya gak pak untuk dijadikan acuan uji kuisioner?

      Hapus
    3. Seharusnya boleh, karena sudah melalui "uji coba." Namun, berhubung uji coba, yang sebaiknya kembali digunakan adalah butir-butir yang valid dan reliabel saja. Ini mirip dengan kuesioner-kuesioner standar versi komersial. Untuk teknik judgment selaku cara penentuan sampel mungkin dapat dicek pada Suharsimi Arikunto (Prosedur Penelitian) atau sejumlah karya populer yang berhubungan dengan Metode Penelitian. Dapat pula dicari dengan kata kunci "Purposive Sampling."
      Sama-sama. Semoga bermanfaat.

      Hapus
  55. Selamat sore, pak.. Saya Marie, mahasiswa yg sedang melakukan skripsi dengan desain penelitian kausalitas (sebab akibat). Saya ingin menanyakan, berdasarkan buku metodologi penelitian bisnis yang saya baca, saya dapat melakukan uji validitas dengan Pearson Product Moment, kemudian setelah itu dilanjutkan dengan analisis regresi linear sederhana dan SPSS. Yang saya bingungkan, bagaimana cara uji realibilitas-nya? Apakah dengan rumus alpha cronbach? atau adakah rumus lainnya? Mohon masukannya, pak.. Saya sangat mengharapkan penjelasan dari bapak mengenai hal tersebut.. Terima kasih..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Selamat sore Marie.
      Uji reliabilitas sebaiknya diadakan segera setelah usainya uji validitas. Apabila Anda menggunakan SPSS maka uji reliabilitas yang umum digunakan adalah Alpha Cronbach. Namun, apabila Anda menggunakan manual (dengan bantuan excel) silakan gunakan rumus di artikel bagian atas. Rumus-rumus lain juga ada misalnya Split-half, Guttman, Parallel, dan Strict-parallel.
      Sama-sama. Semoga bermanfaat.

      Hapus
  56. Selamat sore Pak Seta,
    Saya Nanang
    Mhsswa di UIN Malang
    Maaf pak sebelumnya skripsi saya berjudul pengaruh lingkungan belajar peserta didik terhadap persepsinya tentang perbedaan dalam memeluk agama di SMAK dan MAN di Kodya Malang. Maaf mau tanya tentang penafsiran data yang ditemukan terkait dengan perbedaan kata "pengaruh" dan "hubungan"? apa ada perbedaan diantara kedua hal itu pak? trimakasih sebelumnya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Selamat sore Mas Nanang.
      Kelihatannya skripsi Anda menarik. Terkait dengan kata "pengaruh" dan "hubungan" memang terdapat perbedaa. Apabila "pengaruh" maka peneliti mencari varians di dalam setiap sampel dalam variabel terikat (persepsi) yang mampu diprediksi oleh sampel di dalam variabel bebas (lingkungan belajar). Apabila "hubungan" maka peneliti tidak mencari varians variabel terikat yang diprediksi oleh variabel bebas, melainkan hanya apakah jika varians variabel bebas berubah secara linier maka varians variabel terikat juga berubah secara linier? Singkatnya, "pengaruh" bicara tentang varians di dalam VT yang diprediksi VB sementara "hubungan" hanya jika varians VB berubah apakah varians VT juga berubah?
      Kesamaan dari kedua "pengaruh" dan "hubungan" adalah bahwa keduanya masuk ke dalam statistik inferensial, yaitu statistik yang bertujuan untuk mengambil kesimpulan dari aneka variabel yang diteliti.
      Sama-sama. Semoga bermanfaat.

      Hapus
  57. Artikel yang bermanfaat,,,,, makasih gan ini membantu tugas parktikum saya :)
    Niche blog

    BalasHapus
    Balasan
    1. Alhamdulillah. Sukses untuk Anda.

      Hapus
  58. pagi pak...
    bagaimana menurut bpk mengenai judul penelitian saya,
    "pengaruh dimensi-dimensi budaya organisasi terhadap komitmen organisasi"
    variabel'y
    1.pemberdayaan karyawan
    2. pengembangan informasi
    3. kompensasi.
    4.pembagian informasi( information sharing)

    menurut bapak yang dilihat menjadi variabel'y budaya organisasi atau ke4 variabel yang saya sebutkan.

    terima kasih

    BalasHapus
    Balasan
    1. Selamat pagi. Dalam membedakan antara variabel dengan dimensi, maka perlu diketahui bahwa hal-hal tersebut ada di dalam konteks pembicaraan mengenai "konseptualisasi." Konseptualisasi adalah proses mental, dengan mana peneliti berupaya membuat gagasan-gagasan yang masih bersifat abstrak menjadi lebih spesifik dan lebih tepat (tajam). Dalam konseptualisasi maka "entitas" yang hendak dibuat lebih spesifik dan lebih tepat tersebut adalah "konsep."
      Variabel adalah "konsep" yang hendak diukur (diamati) di
      dalam suatu penelitian, yang dalam mengukurnya, peneliti menggunakan "indikator". Indikator adalah alat ukur yang
      peneliti anggap atau pilih sebagai refleksi cerminan) dari variabel penelitian. "Dimensi" adalah aspek tertentu dari sebuah konsep. Dengan demikian, dimensi bukanlah alat ukur operasional karena hanya menunjukkan aspek tertentu dari suatu konsep. Ketika dimensi digunakan sebagai pengukur suatu konsep, maka dengan demikian, berubahlah dimensi menjadi variabel.
      Dengan demikian maka "konsep" yang hendak Anda ukur dalam penelitian adalah "budaya organisasi" sementara indikator-indikator penelitiannya adalah "nomor 1 hingga 4" tersebut.
      Demikian. Semoga bermanfaat.

      Hapus
  59. pagi pak...
    bagaimana menurut bpk mengenai judul penelitian saya,
    "pengaruh dimensi-dimensi budaya organisasi terhadap komitmen organisasi"
    variabel'y
    1.pemberdayaan karyawan
    2. pengembangan informasi
    3. kompensasi.
    4.pembagian informasi( information sharing)

    menurut bapak yang dilihat menjadi variabel'y budaya organisasi atau ke4 variabel yang saya sebutkan.

    terima kasih

    BalasHapus
  60. pak saya mau tanya, ketika melakukan pengujian normalitas data dengan kolmogrov smirnov, terdapat nilai p value yang kurang dari <0,05, kan artinya tidak memenuhi normalitas data. dari 6 variabel yang diuji, hanya 2 variabel yang nilai sig tailednya <0,05. gimana ya pak cara mengatasinya ? sampel saya 60 orang. apa saya perlu ambil ulang kembali sampel ?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Uji normalitas adalah upaya memperbandingkan skor-skor sampel terhadap skor-skor yang terdistribusi secara normal yang sama nilai mean dan standard deviasinya. Untuk itu, Kolmogorov-Smirnov (KV) juga kerap digunakan sebagai alat ujinya. (Sesungguhnya Shapiro-Wilk juga bisa digunakan). Dalam KV, peneliti memperbandingkan antara p-value KV dengan p-value ketetapan penelitian (umumnya 0.05). Apabila p-value KV > 0.05 maka dinyatakan 'non-signifikan' yang berarti distribusi sampel tidak secara signifikan berbeda dengan distribusi normal (kerap disederhanakan menjadi "berdistribusi normal"). Apabila p-value KV < 0.05 maka dinyatakan 'signifikan' yang berarti distribusi sampel secara signifikan berbeda dengan distribusi normal (kerap disederhanakan menjadi "tidak berdistribusi normal").
      Nah, kini bagaimana dengan distribusi data Anda? Berapa variabel yang berdistribusi normal dan yang tidak?
      Demikian. Semoga bermanfaat.

      Hapus
  61. terima kasih pak atas share nya, ada yang ingin saya tanyakan. mengapa ketika saya menguji validitas, nilai correted item correlation nya dari 7 butir ada 3 butir yang r hitung < r tabel. tetapi ketika di uji dengan korelasi pearson, nilai sig nya memenuhi syarat semua item ? lalu mengapa pada kotak sebelah corrected item correlation, ada squared multiple correlation yang semuanya terisi. apakah itu berpengaruh ?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sesungguhnya ada variasi metode pengambilan keputusan dalam hal uji validitas ini. Ada peneliti yang memperbandingkannya dengan tabel r tetapi ada pula yang mematok nilai tertentu. Penentuan ini sebaiknya sudah ditentukan di dalam desain penelitian (proposal). Umumnya, dalam hal uji validitas yang digunakan adalah yang terakhir yaitu menetapkan nilai korelasi tertentu antara item dalam variabel dengan skor total item dalam variabel. Misalnya, nilai patokan adalah >=0.25, maka item yang dianggap valild adalah item yang memiliki nilai korelasi dengan ketentuan tersebut. Item selainnya dianggap tidak valid.
      Demikian. Semoga bermanfaat.

      Hapus
  62. Selamat siang,

    Saya sedang melakukan survey atas persepsi advantages, disadvantages, dan format penyajian atas suatu teknologi informasi. atas tiap persepsi saya menggunakan beberapa pernyataan skala likert 5 level (setuju-tdk setuju & sangat penting-tdk penting). tujuan penelitian saya deskriptif explanatory.

    Dalam hal ini perlu tidak ya untuk melakukan uji reliabilitas dan validitas? jika perlu, uji validitas apa yg harus saya gunakan?

    Terimakasih..

    BalasHapus
    Balasan
    1. oiya, dalam kuesioner saya jg ingin mencari tahu persepsi 4 kategori user mengenai seberapa penting beberapa sumber informasi keuangan. contoh:
      1. hard copy annual report (skala likert 5: sangat tdk penting s/d sangat penting)
      2. specialist advice s(kala likert 5: sangat tdk penting s/d sangat penting)

      Dan juga ingin mencari tahu persepsi mengenai kualitas informasi. contoh
      1. dapat diandalkan (skala likert 5: tidak setuju s/d sangat setuju)
      2. relevan (skala likert 5: tidak setuju s/d sangat setuju)

      perlukah uji reliabilitas & validitas atas pertanyaan diatas?
      Trims..

      Hapus
    2. Tampaknya penelitian Anda menarik. Penelitian deskriptif memiliki signifikansi tersendiri dalam kemampuannya mengeksplorasi data. Dalam melakukan penelitian, kuesioner yang terdiri atas butir-butir pertanyaan menjadi instrumen pengambilan data. Tentu saja alangkah baiknya apabila kuesioner tersebut memiliki validitas dan reliabilitas. Sebab itu uji validitas dan reliabilitas juga perlu dipertimbangkan untuk diadakan sebelum menganalisis data. Untuk uji validitas, ujinya adalah uji validitas item/butir. Sementara untuk uji reliabilitas yang populer digunakan adalah Alpha Cronbach.
      Sama-sama. Semoga bermanfaat.

      Hapus
  63. bpk yang baik.. apakah setelah mendapatkan data hasil kuesioner (ordinal), skala data perlu ditingkatkan menjadi interval untuk kemudian diuji validitas dan reliabilitasnya??

    untuk keperluan statistik deskriptif pak.. trims sebelumnya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Pendapat saya, statistik deskriptif tidak bertujuan untuk mengambil suatu kesimpulan. Ini berbeda dengan statistik inferensial yang bertujuan mengambil kesimpulan. Uji validitas dan reliabilitas utamanya ditujukan bagi statistik inferensial, sebelum dilakukan uji asumsi (prasyarat), misalnya untuk uji korelasi atau regresi. Namun, ada baiknya pula statistik deskriptif pun dilakukan uji validitas dan reliabilitas dilakukan guna memperlihatkan validitas dan reliabilitas data kita. Apabila data kita sudah ordinal, sebaiknya lakukan saja perangkingan lalu adakan uji validitas dan reliabilitas.
      Demikian. Semoga bermanfaat.

      Hapus
  64. Permisi pak, saya mau menanyakan tentang uji validitas dan uji reliabilitas..
    Saya memiliki responden 150, dengan kuesioner 20 butir
    Yang menjadi pertanyaan saya
    Kapan dilakukan uji validitas dan reliabilitas..?
    1. Apakah dilakukan setelah penyebaran kuesioner kepada keseluruhan responden.? atau
    2. Apakah dilakukan sebelum penyebaran kuesioner kepada keseluruhan responden.?

    Mohon sarannya agar saya menemui titik terang pada sejumlah literatur saya. terima kasih

    BalasHapus
    Balasan
    1. Silakan. Uji validitas isi (face validity) berupa tanggapan ahli (dalam hal skripsi, biasanya masukan dari dosen pembimbing) dilakukan sebelum kuesioner disebarkan kepada responden. Uji validitas butir (korelasi item-item dalam variabel dengan skor total variabel) diadakan setelah kuesioner disebarkan pada responden. Uji reliabilitas diadakan setelah kuesioner disebarkan pada responden. Demikian yang secara umum dan pragmatik berlaku dalam dunia penulisan skripsi.
      Sama-sama. Semoga bermanfaat.

      Hapus
  65. terimakasih tutorialnya, sangat bermanfaat.

    BalasHapus
  66. thx berat bro.. informasinya berguna banget :)

    BalasHapus
  67. Mohon maaf pak sebenarnya uji validitas& reliabilitas dilakukan setelah data yang didapat dari kuesioner yang dibagikan ke responden atau sebelumnya di uji terlebih dahulu lalu stelah valid dan reliabel baru disebarkan

    terima kasih banyak

    BalasHapus
    Balasan
    1. Uji validitas dan reliabilitas, umumnya diadakan segera setelah kuesioner yang disebarkan kepada seluruh responden telah terkumpul dan terisi secara lengkap.
      Sama-sama. Semoga bermanfaat.

      Hapus
    2. Pak bagaimana meliat data itu valid atau tidak .. realibel atau tidak dgn sampel 15 orang

      Hapus
    3. Untuk uji validitas, ada jenis yang namanya face validity (validitas muka). Validitas jenis ini tidak diuji secara statistik melainkan melakukan penilaian atas instrumen. Pihak yang menilai instrumen bisa pakar atau panel (misal, dosen pembimbing maupun individu responden yang diyakini kompeten dalam menilai butir-butir pernyataan di dalam instrumen). Hal ini mengingat jumlah sampel Anda yang cukup kecil yaitu 15. Atau, apabila dikehendaki silakan saja dipergunakan Kendall-tau (karena jumlah sampel kecil). Sementara, untuk uji reliabilitas, dapat diadakan dengan Cronbach Alpha.
      Satu hal yang hendaklah tidak dilupakan adalah, konsultasi dengan pembimbing skripsi Anda.
      Demikian. Semoga bermanfaat.

      Hapus
  68. Pak boleh saya minta nomor hp bapak sewaktu saya butuh bantuan atau bimbingan tentang masalah yang saya hadapi dalam statistik

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih. Wah, sesungguhnya saya bukanlah seorang ahli. Namun, silakan menyematkan pertanyaan di sini. Atau, ke email saya di setabasri@gmail.com
      Insya' Allah akan saya tanggapi secepat mungkin.

      Hapus
  69. selamat sore pak seta. saya seorang mahasiswa yg sedang skripsi. saya belom paham tentang spss. penelitian saya menggunakan 2 skala pengukuran. variabel x memakai skala ordinal sedangkan Y skala nominal. untuk uji reliabilitas dan validitas Variabel Y (skala nominal) caranya bagaimana?. Terima kasih

    BalasHapus
    Balasan
    1. Selamat sore. Untuk yang skala ordinal silakan gunakan metode di dalam artikel. Untuk yang skala nominal dapat Anda manfaatkan nilai Phi. Apabila menggunakan SPSS caranya klik Analyze > Descriptives statistics > Crosstabs statistics. Masukkan item yang hendak ditest validitasnya. OK. Pada output, lihat nilai Phi. Apabila nilai 0.1 (small), apabila 0.3 (medium), apabila 0.5 (large, strong), apabila 1 (perfect). Sementara, untuk reliabilitas yang ordinal gunakan metode di atas. Untuk yang nominal dapat digunakan Kappa.
      Sama-sama. Semoga bermanfaat.

      Hapus
    2. selam pagi pa. bagaimana cara menggunakan kappa? lalu syarat reliabelnya seperti apa? terima kasih

      Hapus
    3. maaf pa saya ingin bertanya lagi. untuk validitas yg skala nominal. apabila saya hendak memasukan item, item itu saya masukan kemana? soalnya ada area row, column. ada 8 item yang ingin saya masukan

      Hapus
    4. Selamat pagi. Lebih dahulu untuk komentar pertama. Kappa digunakan untuk uji reliabilitas variabel nominal. Saya amat menyarankan untuk melihatnya di link ini:
      http://dfreelon.org/utils/recalfront/recal2/
      Step by step langkah uji reliabilitas nominal scale ada di link tersebut.
      Untuk komentar kedua, yaitu uji validitas untuk data nominal sangatlah kurang untuk disarankan. Mengapa? Karena data nominal tidaklah memili urutan-urutan tertentu yang konsisten. Dengan demikian, uji statistik untuk membuktikannya valid atau tidak amatlah beresiko. Saya lebih menyarankan uji validitas skala nominal dengan teknik Face Validity dan Content Validity. Face Validity adalah penilaian pakar (bisa dosen, bisa kuesioner penelitian yang pernah digunakan ahli). Juga Content Validity, yaitu kesesuaian penggunaan kalimat pernyataan dalam kuesioner dengan konsep (variabel, indikator) yang tengah diteliti.
      Demikian. Semoga bermanfaat.

      Hapus
    5. terima kasih pak atas masukannya. sangat bermanfaat

      Hapus
    6. Sama-sama. Alhamdulillah.

      Hapus
  70. assalamu'alaikum pak seta. maaf kalo out of topic, mau tanya pak apa syarat tempat untuk melakukan uji kuesioner? apa ada buku atau link yg bisa bapak rekomendasikan? terima kasih

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wa'alaikum salaam.
      Mengenai uji kuesioner, saya merekomendasikan untuk memelajari link-link berikut:
      http://www.joe.org/joe/2007february/tt2.php
      dan
      http://www.statisticshell.com/docs/designing_questionnaires.pdf
      Bahasanya cukup mudah dimengerti dan dipahami.
      Selamat meneliti. Semoga bermanfaat.

      Hapus
  71. Selamat siang pak seta,
    terimakasih artikel yang sangat menarik dan membantu,
    saya membaca tulisan bapak batas minimum untuk reliabilitas adalah 0,4. namun saya membaca beberapa buku referensi kok minimum 0,6 ya pak,
    saya sedang melakukan penelitian, sudah uji reliabilitas, ada 7 variabel, namun yang di bawah 0,6 ada 3, yakni 2 diantaranya 0,5 dan satu nya lagi 0,4 . apakah itu bisa di katakan reliabel ya pak?
    sedangkan saya membaca bberapa buku referensi batas reliabel 0,6.
    adakah teori atau referensi dari buku Indonesia yang menyatakan nilai minimum reliabel adalah 0,4

    terimakasih sebelumnya :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Selamat siang, Ima. Mungkin ada baiknya hendak dipastikan nilai Alpha Cronbach (AC) yang dimaksud. Pertama, nilai AC secara keseluruhan, yaitu yang termuat di tabel Alpha Cronbach hasil olahan SPSS (yang cuma satu tabel tunggal, dua baris). Nilai 0,4 yang saya maksud di artikel atas bukanlah yang ini. Kedua, nilai "AC" setiap item (inter-item correlation), yang merinci nilai AC untuk setiap item pernyataan di dalam suatu variabel. Pada hakikatnya inilah yang dirujuk oleh nilai 0,4 seperti dalam artikel saya di bagian atas. Untuk nilai per item, sayangnya saya merujuk kepada:
      John W. Lounsbury, Lucy W.Gibson, Richard A. Saudargas, “Scale Development” dalam Frederick T.L. Leong and James T. Austin, The Psychology Research Handbook: A Guide for Graduate Students and Research Assistants (Thousand Oaks: Sage Publications, Inc., 2006) p.144. Nilai ini termasuk cukup tinggi, mengingat terdapat juga penulis lain yang mematoknya antara 0,2 - 0,4 (misalnya S.R. Briggs & J.M. Cheek, "The Role of Factor Analysis in the Development and Evaluation of Personality Scales" dalam Journal of Personality, 45, 1986. pp.106-48.)
      Untuk nilai AC secara keseluruhan (yang pertama), tentu nilai 0,70 amat disarankan (termasuk ke dalam reliabilitas tinggi menurut tabel di atas). Nilai ini berlaku untuk satu variabel secara keseluruhan (satu variabel tentu saja terdiri atas sejumlah item pernyataan dalam kuesioner). Tabel-tabel penulis luar dan Indonesia umumnya serupa dalam kategorisasi nilai AC untuk total variabel ini.
      Nah, apabila Anda hendak "meninggikan" nilai AC keseluruhan, maka dapatlah kiranya untuk melakukan "eliminasi" item-item yang AC-nya rendah (yang kedua). Insya' Allah nilai AC keseluruhan (yang pertama) Anda akan meningkat.
      Namun, di atas semua, apabila pertanyaannya adalah "apakah itu (yang berskor 0,5 dan 0,4) bisa dikatakan reliabel" maka jawaban saya adalah "ya". Dalam Anda lihat pada tabel-tabel kategorisasi nilai AC. Hanya saja mungkin kategorisasinya rendah atau moderat. Jadi, menurut hemat saya, Anda silakan gunakan terus variabel tersebut dalam langkah-langkah penelitian selanjutnya.
      Sama-sama. Semoga bermanfaat.

      Hapus
    2. Terimakasih sekali pak seta, jawaban yang mudah di cerna dan sangat membantu.
      kalau 0,4 yang di maksud adalah nilai per item berarti memang kategorinya sudah tinggi ya pak, saya pikir 0,4 itu adalah AC yang keseluruhan pak :)
      Namun saya masih kesulitan dan tidak mengerti bagaimana cara melakukan eliminasi di setiap item nya pak, agar supaya AC keseluruhan nilainya lebih tinggi, mohon maaf jika mungkin pak seta berkenan untuk membantu mengajari saya.
      terimakasih sebelumnya, ilmunya sangat bermanfaat.

      Hapus
    3. Mengenai "eliminasi". Tatkala melakukan pengujian reliabilitas dengan SPSS, lakukan langkah klik Analyze > Scale > Reliability Analysis > Masukkan butir-butir item > Klik Statistics > Aktifkan Item, Scale, Scale if item deleted, Correlation, None > Klik Continue > Model Alpha > OK.
      Pada output, perhatikan terutama kolom Cronbach's Alpha if item Deleted. Ini adalah nilai AC keseluruhan nantinya apabila item yang bersangkutan dieliminasi. Ada baiknya untuk dicatat agar tidak terlupa. Juga, perhatikan kolom Corrected Item-Total Correlation, dengan mana tertera apakah nilai >= 0,4 ataukah tidak. Ada baiknya untuk dicatat agar tidak terlupa.
      Cara melakukan eliminasi cukup mudah. Namun, dengan catatan, sebuah indikator variabel harus terdiri atas 2 atau lebih pernyataan. Kalau cuma satu dan itu di-delete, maka indikator tersebut otomatis tidak boleh digunakan karena tidak ada "perwakilannya". Kembali ke cara melakukan eliminasi. Lakukan klik Analyze > Scale > Reliability Analysis. "Jangan" masukkan item-item yang hendak dieliminasi (ingat hasil output uji Reliabilitas sebelumnya. Langkah selanjutnya adalah sama.
      Sama-sama. Alhamdulillah.

      Hapus
    4. Terimakasih bapak atas jawabannya :)
      Alhamdulillah sudah berhasil mencobanya,
      tapi sekarang ada permasalahan lagi bapak, karena hasil uji regresi nya ternyata tidak signifikan, apa yang perlu saya lakukan selanjutnya ya pak?
      terimakasih sekali, mohon maaf merepotkan

      Hapus
    5. Dalam proses penelitian, hal yang paling pokok adalah prosedur. Apabila proses uji validitas, uji reliabilitas, dan uji-uji asumsi, dan finalnya uji regresi dilakukan, maka apapun hasil pengujian harus diterima secara apa adanya. Hal yang agak kerap menjadi kontroversi adalah "pembimbing" atau "penguji" enggan menerima hasil uji regresi yang tidak signifikan (misalnya sig. hitung > sig. penelitian). Kerap pula dianggap hasil yang demikian "tidak ilmiah". Padahal, hendaknya tidak demikian. Adalah baik untuk dinyatakan bahwa penelitian diterapkan kepada "sampel", bukan "populasi". Sehingga, kerap sampel yang berbeda menghasilnya hasil berbeda kendati dalam populasi yang sama.
      Dalam uji regresi, tidak hanya nilai signifikansi yang terpenting. Dalam uji regresi, hal yang hendak dilihat tentu bukan hanya signifikan atau tidak signifikan. Ada sejumlah hal lain yang perlu dipertimbangkan misalnya nilai koefisien determinasi, konstanta, dan sejenisnya. Singkatnya, disarankan untuk memuat hasil secara apa adanya. Berikan saja kesimpulan seperti ini: "X mempengaruhi Y sebesar .... tetapi tidak signifikan". Kiranya hal tersebut ada hasil penelitian yang patut diapresiasi.
      Demikian. Semoga bermanfaat.

      Hapus
  72. Pak bagaimana mengolah data dengan regresi sederhana sementara pertanyaan variabel Y saya cuman 1 dan X saya 30..
    mohon bantuannya pak terimakasih banyak

    BalasHapus
    Balasan
    1. Mungkin ada baiknya apabila diterangkan variabel serta indikator-indikator baik untuk yang X maupun Y. Namun, sebenarnya bisa saja uji regresi sederhana dilakukan karena nantinya, baik X maupun Y akan mengerucut hingga masing-masing menjadi sebuah variabel "tunggal" ketika persamaan regresi diberlakukan. Misalnya, seluruh item di X akan ditotalkan. Juga, "seluruh" item di Y.
      Demikian. Semoga bermanfaat.

      Hapus
    2. saya masih belum mengerti pak..
      masalahnya pass saya olah pakai spss 16 output tabelnya gk keluar. .
      variabel x saya indikator/dimensi ada 5( lingkungan pengendalian, perhitungan resiko, aktivitas pengenadalian ,informasi dan komunikasi serta pemantuaan ) = 30 pertanyaan..
      variabel Y nya cuman 1 pertanyaan ..
      jadii otomatis total variabel X untuk 1 item pertanyaan = bisa mencapain 100 sementara variabel Y totalnya cuman 4..
      terus variabel X nya total untuk masing masing respondenya beragam sementara variabel nya untuk total masing masing resp variavel Y nya sama ...........
      yang di maksdkan mengerucut itu bagaimana pak, sehingga menjadi variabel tunggal, sementara variabel Y saya tidak bisa di totalkan karna cuman 1 pertanyaan dan bobotnya 4 ?
      terima kasih pak, mohon bantuanya

      Hapus
    3. Mungkin ada sejumlah alternatif deteksi masalah. Pertama, Anda melakukan uji regresi 5 VB dan 1 VT. Secara teoretik, jumlah sampel ideal adalah n = 50 + 8m. Dengan mana m = jumlah variabel bebas. Jadi, dengan penggunaan 5 VB maka jumlah sampel ideal adalah n = 50 + 8.5 = 50 + 40 = 90. Apakah jumlah sampel Anda memenuhi seperti tersebut? Kalau memang demikian, ada baiknya jumlah sampel Anda ditambah. Kedua, masalah tidak keluarnya output SPSS juga kerap ditemui apabila alat ukur "terlalu banyak" atau redundant. Misalnya, apabila kita hendak menguji validitas terhadap 4 indikator. Kemudian masing-masing indikator memiliki sekitar 7 pernyataan, kerap output tidak keluar. Untuk masalah yang seperti ini, mungkin dapat dicoba perhitungan manual regresi. Gunakan MS-Excel sebagai alat bantu.
      Mengenai variabel "tunggal" mungkin ada yang keliru. Dikira oleh saya "x saya 30" adalah 1 Variabel Bebas. Ternyata setelah dijelaskan adalah 5 variabel. Maksud dari 1 variabel tunggal adalah skor total sebuah variabel. Misalnya, untuk VB Anda menggunakan 30 pernyataan. Ke-30 tersebut teryata terdiri atas 5 VB. Jadi (mungkin) 30/5 = 6. Sehingga masing-masing VB diwakili oleh 6 pernyataan. Nah, yang dimaksud "variabel tunggal" adalah ke-6 pernyataan di masing-masing ditotalkan sehingga dimunculkan "variabel tunggal". Mungkin namanya X1, X2, X3, X4, dan X5. Dengan demikian, dalam meregresi, Anda hanya punya 5 VB (dimasukkan ke dalam kotak Independent(s). Dan, 1 VT (dimasukkan ke dalam kotak Dependent(s). Mohon ditinjau kembali apakah memang demikian? Apabila setelah ditinjau ulang masih tidak keluar outputnya, disarankan untuk menambah jumlah sampel, mengurangi jumlah VB (dari 5 menjadi 3, misalya), atau melakukan perhitungan manual (tidak dengan SPSS).
      Demikian. Semoga bermanfaat.

      Hapus
    4. yg saya maksudnya bukan pada uji validtas atau realibitas nya pak..
      tapi dalam analisis data dengan regresi sederhana ..~

      Hapus
    5. Ya. Kiranya untuk hal analisis data dengan regresi juga demikian. Kemungkinan besar, terlalu besarnya jumlah pernyataan (item kuesioner). Apabila memungkinkan dapatlah kiranya diringkas. Atau, apabila tidak, hendaklah ditambah jumlah sampelnya, yang untuk 1 VB idealnya adalah minimal 58.
      Demikian. Semoga bermanfaat.

      Hapus
    6. terima kasih banyak pak..
      kira kira bapak punya referensi di internet, kira nya dapat mempermudah saya untuk mengikuti langkah langkahnya. .

      Hapus
    7. Saran saya, untuk uji coba (file spss-nya mohon dibackup terlebih dahulu). Cobalah untuk VB dari 30 item diubah menjadi 15 item. Lalu dicari skor totalnya. Lalu dengan SPSS coba Anda regresikan. Kemudian, apakah output tabelnya dapat ditampilkan? Apabila belum, coba kurangi dari 15 menjadi 10 lalu coba kembali. Apabila belum juga tampil, coba kurangi kembali (misalnya, dari 10 menjadi 5).
      Demikian. Semoga bermanfaat.

      Hapus
  73. Pak punya FB . . ?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sayang sekali. Saya tidak memilikinya.

      Hapus
  74. Pak bagaimana mengolah data variabel X saya ordinal dan Variabel Y saya Rasio yang di kuisonerkan tapi di intervalkan dengan MSI

    BalasHapus
    Balasan
    1. Pengolahan data sesungguhnya adalah serupa dengan yang umum terjadi. Dalam bagian deskripsi data (umumnya pemuatan persentase), untuk variabel X gunakan saja data ordinal. Demikian pula untuk yang Y. Nah, data hasil konversi MSI mulai digunakan tatkala uji validitas, uji reliabilitas, uji-uji asumsi, dan uji regresi dilakukan.
      Demikian. Semoga bermanfaat.

      Hapus
    2. apakah data rasio yg di kuisionerkan mengunakan skala ordinal juga ?
      makasih sebelumnya

      Hapus
    3. Alangkah baiknya data rasio tidak perlu diintervalkan dengan MSI. Seyogyanya biarkan saja ia skala rasio. Yang perlu diintervalkan adalah yang skala ordinal, agar uji validitas yang menggunakan uji Pearson dapat diberlakukan. Jadi, X yang ordinal naik menjadi interval dengan menggunakan MSI. Dan, Y yang rasio dibiarkan saja ia rasio. Lalu, adakan uji validitas, reliabilitas, dan seterusnya.
      Sama-sama. Semoga bermanfaat.

      Hapus
  75. berarti mengunakan 2 skala yang berbeda diperbolehkan dalam penelitian rasio dan ordnal, primer sekunder >

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hal yang hendak dimaksudkan adalah, keputusan untuk mengadakan uji mengikut pada skala terendah. Apabila variabel satu berskala ordinal sementara lainnya berskala rasio, maka uji statistik berpatokan pada skala terendah, yaitu ordinal.
      Demikian. Semoga bermanfaat.

      Hapus
  76. Mas, saya mau tanya dalam penelitian misal ingin meneliti faktor internal (X1) & faktor eksternal (X2) sikap seseorang terhadap keputusan pembelian (Y). Sebaiknya menggunakan alat ukur/skala apa yang digunakan pada instrument-nya? dan teknik uji SPSS apa saja yang bisa digunakan. Thanks sebelumnya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Tentu saja, dalam uji statistik semakin skala menyerminkan kondisi sebenarnya, semakin baik. Dalam hal ini tentu skala rasio yang disarankan. Namun, persoalannya apakah mungkin hal tersebut diejawantahkan. Untuk variabel-variabel bebas X1 dan X2. Faktor internal dan faktor eksternal dapat saja diukur dengan skala Likert (ordinal). Skala ini dapat dinaikkan menjadi interval menggunakan MSI (method of succesive interval). Untuk variabel Y. Mengenai "keputusan pembelian", kembali kepada peneliti mengenai indikatornya (lihat acuan teoretis). Karena "keputusan" bisa nominal (jawaban ya dan tidak) atau kondisi sikap (ss, s, ts, sts) yang diukur dalam skala ordinal yang kemudian dapat dikonversi menjadi interval dengan menggunakan MSI.
      Persoalan selanjutnya. Apakah penyelidikan Anda mengenai "pengaruh", "hubungan", "perbedaan" atau lainnya? Apabila mengenai "pengaruh" maka tentu tepat apabila diterapkan uji regresi berganda, dengan syarat seluruh variabel ordinal telah ditingkatkan skalanya menjadi interval dengan MSI. Apabila "hubungan" maka apabila hendak ditetapkan skala pengukuran tetap ordinal, maka digunakan Spearman. Apabila "hubungan" tetapi skala hendak ditingkatkan menjadi interval, maka digunakan Pearson.
      Sama-sama. Semoga bermanfaat.

      Hapus
  77. pagi..
    saya mau tanya. kalo skala datanya ordinal (skala likert),,uji validitas n reliabilitasnya pakai uji apa n yg dibaca yg mana?? (pada spss)
    trima kasih banyak :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Selamat pagi. Untuk skala ordinal, uji validitas menggunakan Spearman, uji reliabilitasnya menggunakan Alpha Cronbach. Untuk uji validitas, yang dilihat adalah korelasi antara skor masing-masing item dengan skor total variabel. Ada baiknya korelasi >= 0,25. Untuk uji reliabilitas, yang dilihat adalah nilai Alpha Cronbach. Ada baiknya nilai ini memiliki reliabilitas tinggi (>0,7).
      Sama-sama. Semoga bermanfaat.

      Hapus
  78. selamat pagi pak
    jika dalam hasil output saya ada satu hasil kurang dari r tabel namun 9 hasilnya jauh diatas r tabel bagaimana pak?apakah kuesioner saya valid?
    mohon solusinya
    terima kasih

    BalasHapus
    Balasan
    1. Selamat pagi. Memang penentuan angka patokan valid tidaknya sebuah item dalam uji validitas agak berbeda-beda. Anda menentukannya dengan perbandingan r hitung : r tabel. Apabila Anda mematok pada r tabel, maka 1 pernyataan tentulah dianggap sebagai tidak valid karena berada di bawah r tabel. Namun, ada pula peneliti yang mematok nilai tertentu, yaitu >=0,25 dan signifikan untuk menentukannya sebagai valid, sementara < 0,25 tidak sebagai valid. Saran saya adalah dapatlah kiranya kriteria penentuan nilai valid/tidak valid kembali dipastikan.
      Sama-sama. Semoga bermanfaat.

      Hapus
  79. selamat pagi pak? saya caca ingin menanyakan bagaimana cara menentukan suatu validitas dan reliabilitas suatu instrumen? trimakasi

    BalasHapus
    Balasan
    1. Selamat pagi. Untuk masalah validitas instrumen dilakukan lewat langkah-langkah nomor 1. Uji Validitas pada artikel di atas. Untuk uji reliabilitas silakan dilakukan langkah nomor 2. Uji Reliabilitas pada artikel yang sama.
      Sama-sama. Semoga bermanfaat.

      Hapus
  80. pak, saya mau bertanya. judul skripsi saya kan" pengaruh sertfikasi guru terhadap kinerja guru" nah di kuesioner sya hanya membuat pernyataan di variabel Y nya saja, sedangkan yg sayang peroleh dri variabel x hanya berupa data-data guru yg sudah tersertifikasi. lalu bagaimana cara saya mengolah data nya??? terima kasih

    BalasHapus
    Balasan
    1. Mungkin dapat dikatakan bahwa penelitian Anda diadakan khusus untuk guru-guru yang sudah tersertifikasi. Anda hendak menyelidiki kinerja mereka. Dengan demikian, sesungguhnya dapatlah dikatakan bahwa penelitian terfokus pada 1 (satu) variabel yaitu kinerja guru. Kinerja guru yang dimaksud adalah khusus pada guru-guru yang sudah tersertifikasi. Ada baiknya Anda lakukan saja penelitian deskriptif, yaitu melihat persentase-persentase di kalangan indikator dari kinerja guru (sesuai teori yang digunakan).
      Sama-sama. Semoga bermanfaat.

      Hapus
  81. iyaa pak, tapi setelah saya melakukan penelitian dengan kuesioner yang saya buat sesuai dengan teori di operasional variabel. saya bingung cara mengolah datanya,, apa perlu ada korelasi antara variabel x dan y? sedangkan variabel x saya tidak ada pernyataan di kuesioner?

    BalasHapus
  82. Salam kenal pak, saya mau tanya,tentang uji reliabilitas instrumen saya. Menurut penelitian yang lalu, instument tersebut di ujireliabilitas dengan Kappa. Bagaimana langkah-langkah Uji Kappa di SPSS versi 15 pak? mohon penjelasannya pak. apa syarat uji kappa pak?

    BalasHapus
  83. pagi pak,salam kenal
    sy ayu,sy membuat kuesioner pengetahuan, prilaku dan sikap dengan jawaban Ya dan Tidak.hasil validasi yg sy lakukan dengan corrected item-total correlation banyak yg memberikan nilai o,ooo dikrnkn jwaban yg diberikan responden banyak yg benar,begitu juga pearson correlation.apa yg sebaiknya sy lakukan pak? apkh mengganti pertanyaan atau menambah responden pak? sblmnya sy menggunakan 10 responden pak, kalau mengganti pertanyaan banyak sekali pertanyaan yg harus sy ubah pak...

    BalasHapus
  84. selamat pagi pak,
    bisakah menghitung validitas soal menggunakan alfa cronbach ?

    BalasHapus

Ketik komentar anda. Pada Beri komentar sebagai pilih Name/URL jika anda tak memiliki Google Account. Lalu klik Publikasikan.