Zaman Linux

0 komentar
Share:
Linux adalah sistem operasi yang terus naik daun. Distro-distro seperti SuSE, Fedora, Edubuntu, Ubuntu, Kubuntu, Mandrake/Mandriva, dan sejenisnya seolah terus berusaha menggantikan fungsi Windows. Linux, yang tadinya khusus untuk penggunaan jaringan, meluas ke arah sistem operasi Desktop.

Bayangkan, untuk menggantikan posisi Microsoft Office (Word, Excel, dan PowerPoint), rata-rata distro Linux sudah memaket OpenOffice.org (Writer, Calc, dan Impress). Untuk membuka file .pdf, Linux rata-rata sudah kompatibel untuk download dan instalasi Acrobat Reader (aneka versi). Potret Indonesia

Untuk posisi MS Visio, Linux menyertakan Dia, yang meskipun sangat sederhana, cukup lumayan buat bikin-bikin skema jaringan komputer. Lalu, untuk memounting jaringan komputer yang ada Windowsnya, ada Samba buat mengenali. Untuk posisi Adobe Photoshop, di Linux sudah dipaket aplikasi The Gimp. Aplikasi ini bisa buat rancang spanduk, brosur, etcetera. Ekstensi file yang bisa dikenali cukup banyak, misalnya : .bmp, .jpg, .gif, .tiff, .png, bahkan .psd yang murni khas Adobe Photoshop.

Cara penginstalasian Linux pun cukup mudah. Mereka yang terbiasa menggunakan Windows cuma perlu sedikit belajar untuk memasang Linux di PC masing-masing. Cuma, penulisan hardrive di saat melakukan partisi saja yang berbeda. Jika di Windows dikenal drive A: C: D: atau E:, di Linux berturut-turut dikenali sebagai /fd0, /hda1, /hda2, atau /hdc.

Yang paling aman, kita gunakan saja metode dual booting. Pertama, instalasi dulu Windows. Bikin 2 atau 3 partisi. Biasanya kan kita bikin 2 partisi Windows, satu buat program, satu buat data. Partisi ke-3 nanti kita pakai buat Linux. Setelah Windows, baru kita intalasi Linux. Dengan grub pada mbr, kita bisa pilih Linux atau Windows yang hendak dipakai. Silakan coba.

Leave a Reply

Ketik komentar anda. Pada Beri komentar sebagai pilih Name/URL jika anda tak memiliki Google Account. Lalu klik Publikasikan.