Sejarah Nusantara dari Sudut Pandang Bernard Hubertus Maria Vlekke

2 komentar
Share:
Sejarah Nusantara dari Sudut Pandang Bernard Hubertus Maria Vlekke merupakan resensi atas buku yang sama. Nusantara, laut yang menghubungkan pulau-pulau, kira-kira begitu kalau boleh saya terjemahkan. Nama tersebut lebih enak diacu juga digunakan. Agak lain dan berbeda rasanya dengan penyebutan resmi negara ini: Indonesia. Bukan maksud saya kutak-kutik nama negara, cuma sekadar main kata-kata.

Potret Indonesia Ada buku menarik soal nusantara ini. Judulnya Sejarah Nusantara karangan Bernard H.M. Vlekke. Diterbitkan dalam bahasa Belanda tahun 1948. Ya, bicara sejarah ya bicara kurun lampau. Buku ini sudah banyak bereda di toko-toko buku dan saya 'nekad' membelinya.

Lumayan tebal, perlu hitungan minggu buat menamatkan. Informasinya padat seputar masa lampau Indonesia. Berawal dari keberadaan nenek moyang bangsa Indonesia, yang asal Cina Selatan. Asal nenek moyang ini juga sama dengan pemahaman mainstream buku-buku sejarah sekolah dasar sampai menengah. Biasa.

Lalu Vlekke beranjak ke masa kerajaan-kerajaan besar nusantara seperti Majapahit dan Sriwijaya. Beranjak lagi ke persebaran Islam di nusantara. Lalu masuknya bangsa-bangsa Eropa. Kemudian Indonesia menjadi medan baru perang Arab-Eropa. Memang semua ini masuk ke dalam pemahaman mainstream soal sejarah Indonesia.

Namun, ada beberapa hal menarik yang kita baca dari Vlekke. Pertama ada sentimen dirinya ---yang notabene bangsa Belanda--- terhadap Ingrris, khususnya Thomas Stamford Raffles. Lalu, ternyata kebijakan-kebijakan kolonial di Indonesia merupakan kepanjangan dari perubahan politik di Eropa. Bangkitnya liberalisme politik, pembentukan parlemen, dan sejenisnya di Eropa membuat kebijakan kolonial Belanda di Indonesia berubah pula. Daendels, gubernur jenderal Belanda itu Napoleonis, diangkat tatkala Belanda diduduki pasukan Napoleon.

Belanda ternyata cuma berkuasa di sentra-sentra kepadatan penduduk dan wilayah potensial ekonomi. Selebihnya wilayah Indonesia murni dikuasai pribumi. Diceritakan bagaimana Bengkulu tetap menjadi wilayah Inggris, dan Belanda kesulitan masuk ke sana. Aceh yang sangat kuat resistensi masyarakatnya akibat doktrin jihad yang disebarkan ulama dan Turki Utsmani. Divide et impera Tidore vis a vis Ternate, di mana Tidore lebih toleratif ketimbang Ternate yang militan.

Diceritakan pula bagaimana mulai berkembang sistem 'raja kecil', sesuatu yang mirip kondisi otonomi daerah saat ini, di mana di tiap wilayah, Belanda tidak langsung berkuasa melainkan mempercayakan pada pengelolaan bupati atau wedana untuk pungut upeti dari masyarakat. Juga dibeberkan bahwa teh Indonesia berasal dari Assam, India dan pohon tembakau serta kopi dari Amerika Selatan.

Vlekke juga membeberkan bahwa yang berkuasa di Indonesia pada kurun kolonial (sampai 1900-an) adalah swasta Belanda, bukan pemerintah. Perusahaan-perusahaan ini jungkir balik dalam mengelola modal dan mengembalikannya. Semua dilukiskan Vlekke secara mendetail, meskipun nada pro Belanda-nya sangat kental.

Benang merah dari buku ini adalah, ternyata Belanda berjasa besar dalam pembentukan konsensus nasional. Wilayah dan pendiri republik Indonesia rata-rata dididik di Belanda akibat Politik Etis Vandeventer. Dapat disebut sejumlah tokoh bangsa yang pernah sekolah di Belanda semisal Moh. Hatta, St. Sjahrir, Ali Sastroamidjojo, Ahmad Subardjo, Mr. Sartono, atau Datuk Ibrahim St. Malaka. Orang-orang ini pula, kelak, yang mengubah wajah Indonesia.

tags:
buku sejarah nusantara sejarah indonesia vlekke kerajaan indonesia kesultanan indonesia era kolonial

2 komentar:

Ketik komentar anda. Pada Beri komentar sebagai pilih Name/URL jika anda tak memiliki Google Account. Lalu klik Publikasikan.