Free Software sebagai Gerakan Sosial Baru

0 komentar
Share:
Gerakan sosial merupakan pergerakan dari kelompok-kelompok sosial guna mengubah relasi sosial. Gerakan sosial klasik menggunakan determinisme ekonomi sebagai basis ideologi gerakan. Gerakan tipe ini berkembang menjadi misalnya gerakan serikat buruh. Gerakan tersebut bertujuan mengubah relasi hubungan alat dan cara produksi di sistem kapitalisme.


Pada perkembangannya, analisis gerakan sosial tidak bisa sekadar dipertahankan pada determinisme ekonomi sebagai pisau analisis. Paling tidak, gerakan sosial hak suara perempuan di Amerika Serikat merupakan bentuk baru dari gerakan ini. Isu-isu yang lebih spesifik kemudian menjadi basis ideologi gerakan sosial kontemporer. Lingkungan, habit, musik, dan juga penggunaan piranti lunak, merupakan gerakan-gerakan sosial baru.

Potret Indonesia Gerakan sosial adalah gerakan yang berakar dari masyarakat sipil. Gerakan tersebut tidak harus bersifat politik. Rudolf Heberle menyatakan, gerakan sosial baru bersifat politik jika mereka mempertanyakan relasi kekuasaan di dalam suatu negara. Gerakan serikat buruh sebagai contoh, murni merupakan sebuah gerakan politik tatkala mereka menuntut perubahan atas SKB empat menteri. Gerakan tersebut mempertanyakan relasi kekuasaan yang terbangun antara negara, pengusaha, dan buruh itu sendiri.

Lalu, bagaimana dengan freesoftware movement ? Jelas, lambat laun gerakan yang tadinya bersifat sosial bergerak maju menjadi gerakan politik. Gerakan ini memiliki akar dalam pola kekuasaan teknologi suatu perusahaan. Misalnya, dominasi Microsoft dalam mempenetrasikan penggunaan software produksinya ke tengah masyarakat. Setelah penetrasi ini, muncul ketergantungan dari masyarakat seputar kemudahan dan fasilitas yang inheren di dalamnya. Lebih lanjut, perusahaan tersebut mengendalikan aspek politik melalui serangkaian undang-undang (misalnya HAKI).

Freesoftware bergerak dalam tataran "pembebasan" kendali perusahaan-perusahaan produsen software. Mereka giat memproduksi software-software alternatif minus bayar lisensi. Sejumlah software seperti The Gimp, Mozilla Firefox, KMPlayer, Dia, ThunderBird, merupakan sederetan software yang diproduksi dari gerakan ini. Meski beberapa tetapi mempertahankan lisensi (juga ada yang berbayar biaya update dan sekuriti), tetap saja "penganut" gerakan freesoftware mensosialisasikan penggunaan software tersebut, sebagai bentuk "perlawanan" terhadap kendali perusahaan-perusahaan besar produsen software.

Di Indonesia sendiri, sangat banyak komunitas "project" dari gerakan freesoftware ini. Dapat disebut KPLI di aneka daerah, komunitas berdasarkan distro Linux tertentu, komunitas pengguna open sources berdasar jenis kelamin, basis perguruan tinggi, dan lain sebagainya. Gerakan sosial ini tentu saja berefek pada munculnya tantangan yang bersifat politik. Misalnya, di kalangan dunia pendidikan seperti SMK misalnya, pernah ada perdebatan mengenai "fifty-fifty" penggunaan software sistem operasi (antara Microsoft dan Linux). Gerakan ini juga mempertanyakan alokasi anggaran negara yang diperuntukkan bagi pembayaran software berlisensi.

Gerakan sosial freesoftware ini berkembang dan punya cakupan lebih luas lewat penggunaan internet. Melalui media tersebut, pandangan-pandangan yang filosofis sekaligus ideologis menjelaskan posisi sosial pengguna freesoftware vis a vis software berlisensi. Jejaring sosial yang terbentuk melalui internet, kemudian dimanifestasikan dalam berbagai event "collective action" semisal RoadShow Linux, seminar, workshop yang tak terhitung jumlahnya, dan sebagainya.

tag:
contoh gerakan sosial baru indonesia gerakan free software gerakan linux indonesia open office menantang dominasi microsoft

Leave a Reply

Ketik komentar anda. Pada Beri komentar sebagai pilih Name/URL jika anda tak memiliki Google Account. Lalu klik Publikasikan.