Resensi Buku Dan Brown Benteng Digital

2 komentar
Share:
Resensi buku Dan Brown Benteng Digital ini dilakukan segera setelah baca novel ini yang judul aslinya Digital Fortress karangan Dan Brown. Brown adalah penulis yang sama buat buku Davinci Code itu. Ceritanya lumayan seru, berpaut antara dunia intelijen Amerika Serikat, intrik politik, dan dunia teknologi informasi. Gaya bahasanya cepat, melompat-lompat dari satu scene ke scene lain. 


Tokoh utamanya Susan Fletcher, kryptolog (pemecah sandi) NSA (National Security Agency), Trevor Strathmore (wakil direktur NSA), David Becker (seperti biasa, ahli bahasa). Kasus dimulai penetrasi software 'asing' ke dalam komputer pemecah kode punya NSA, TRANSLTR. Awalnya dinyatakan, software tersebut adalah program pembuat sandi yang tidak bisa dipecahkan. Potret Indonesia

Pembuatnya Ensei Tankado, bekas karyawan NSA turunan Jepang yang protes oleh sebab TRANSLTR bisa membuka sandi email milik publik. Tankado ini lalu membuat software yang ia klaim tidak bisa dipecahkan kode buatannya oleh TRANSLTR. Strathmore, wakil direktur NSA yang "sok' patriotis penasaran. Software tersebut nekat ia masukkan ke dalam TRANSLTR meski Gauntlet (mesin screen) sudah menyatakan itu virus.

Strathmore ini ambisius, ia mau kuasai penggunaan software Tankado itu buat kepentingan NSA. Buntunya, TRANSLTR berjuang berjam-jam untuk memecah kode yang terus berotasi. Perbandingannya, jika memecah kode biasa, maka mesin tersebut cuma butuh waktu 10 menit-an. Alkisah, Strathmore galau. Dipanggilah Susan buat membantu pemecahan kode software 'virus' tersebut. Susan pun kewalahan, sementara ia pun belum tahu kalau software Tankado itu sesungguhnya virus yang kode pemecahannya ada di cincin Ensei Tankado.

Strathmore mengirim Hulogot, pembunuh bayaran yang biasa ia pakai untuk pekerjaan kotor. Pembunuh itu ditugasi mencari Ensei Tankado, membunuh, dan merampas cincin tersebut. Tatkala Hulogot gagal, Strathmore lalu mengirim David Becker, pacar Susan, yang menguasai aneka bahasa demi mendeteksi di mana keberadaan cincin tersebut. Teka-teki harus dipecahkan Becker, yang berupa pemegang cincin yang selalu berpindah. Pertama dari orang Jerman, Spanyol, dan akhirnya sampai ke tangan anak punk Amerika yang tengah pelesir di Spanyol.

Seluruh orang yang terlibat pembicaraan seputar cincin denga Becker, pasti terbunuh. Hulogot mengirim pesan pembunuhan itu kepada Strathmore melalui pager. Strathmore baru menyadari kalau ia ditipu Tankado setelah tahu TRANSLTR tidak bisa memecah kode. Ia juga menyadari, rekan Tankado bernama North Dakota adalah fiktif. Ia adalah diri Tankado sendiri. Strathmore tadinya merasa, ada orang lain (rekan Tankado) yang tahu di mana cincin tersebut berada. Semua buyar. Strathmore ternyata malah merusak TRANSLTR yang bernilai jutaan dollar itu demi sebuah virus.

Seperti biasa, pengarang menerapkan semacam relativitas moral di dalam Benteng Digital ini. Peran 'baik' dan 'buruk' ia tempatkan secara relatif. Persis seperti novelnya Malaikat dan Iblis, di mana peran pendeta dan orang biasa diaduk-aduk, sehingga batasan antara kebaikan dan keburukan menjadi nisbi. Itu jika dipandang sebagai tujuan. Brown lebih berpandangan pada dimensi 'how'.

Tujuan baik jika dicapai dengan cara buruk maka tujuan pun menjadi sama dengan cara. Di novelnya ini, Brown banyak bicara mengenai dunia komputer. Mengenai basis bilangan penyusun program, virus, worm, dan proteksi komputer muncul di sekujur buku ini. Tampaknya, ada baiknya pecinta komputer baca buku ini untuk sekadar berteka-teki. Selamat membaca.
 

2 komentar:

  1. Terima kasih gan untuk resensi buku Dan Brown Benteng Digital ini buku karya dan brom ini selalu membuat para pembaca merasa penasaran dan tidak bosan untuk dibaca berkali- kali

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sama-sama. Penggemar Brown juga ya? Inferno keren juga tuh. Pengurangan penduduk dunia lewat pemandulan secara acak. Tragis. Selamat menikmati.

      Hapus

Ketik komentar anda. Pada Beri komentar sebagai pilih Name/URL jika anda tak memiliki Google Account. Lalu klik Publikasikan.