7 Alasan Mengapa Indonesia Harus Mengadopsi Open Sources

1 komentar
Share:
Beragam alasan dikemukakan orang seputar kenapa Indonesia harus mengadopsi Free/Open Source Software. Penulis memiliki alasan sendiri mengapa Free/Open Source perlu diadopsi Indonesia, negara tercinta:

SATU :
FOSS, sesuai namanya, mensubstitusi, atau paling tidak, mengkomplementasi, software komersil. Kita tidak dikenakan lisensi khusus untuk pertama menginstall atau pun melakukan pembaruan lisensi layaknya perpanjangan STNK motor. Dana yang dikeluarkan oleh negara untuk membayar aneka lisensi itu, bisa dialokasikan ke hal-hal yang lebih bermanfaat, misalnya tidak sekadar retorika soal pemberdayaan sektor riil, petani, nelayan, tapi betul-betul menyediakan duit untuk subsidi pupuk, subsidi SPP anak miskin, subsidi solar nelayan, subsidi sewa lapak kakilima, atau kalau bisa, subsidi bandwidth. Uang buat subsidi ? Ya, gampangnya diambil dari biaya software komersial. Potret Indonesia

DUA :
FOSS, sesuai namanya, mampu menambah kreativitas bisnis Orang Indonesia. FOSS maupun turunannya silakan digunakan end user. Mau diapakan pun terserah. Boleh diperdagangkan, tapi jangan mahal-mahal deh. Kita lihat saja www.gudanglinux.com sebagai contoh, adalah entitas bisnis yang hidup dari FOSS. Toko Bali-ware, mengkreasi aneka merchandise yang menggunakan FOSS sebagai ideologi kreasi mereka. Kalau sudah punya uang sendiri, mencetak rezeki sendiri, buat apa bergantung sama yang komersial. Modal mahali, profit masih "burung terbang tinggi." Masih banyak deh, termasuk saya lagi pikir mau berkreasi tapi ngga jadi-jadi, he ... he ... Keasyikan ngajar siswa nginstall Linux.

TIGA :
FOSS, sesuai namanya, membuat Orang Indonesai tahu apa script yang membangun suatu settled program. Misalnya, kita bisa tahu script-script apa yang membangun aplikasi hebat semacam OpenOffice.org Writer. Atau, bagaimana The Gimp, rival Photoshop itu, dituliskan script-scriptnya. Orang Indonesia (OI) secara kreatif bisa belajar membuat itu semua. Salah satu bukti mutakhir, banyak edisi Linux yang dibuat OI, bukan? Ya, harus rajin ngoprek syaratnya.

EMPAT :
FOSS, sesuai namanya, membuka mata dunia pendidikan seputar software yang mereka pakai. "Windows yang kita pakai ternyata bajakan ! Kalau mau legal, sekian biayanya !" Ketika mata terbelalak demi mendengar harga software komersil, FOSS ditawarkan. FOSS dijadikan pengimbang dari kekurangan ataupun kelebihan software komersial/closed software. Siswa terbuka matanya dan secara perlahan tapi pasti, mereka suatu saat akan memilih. Terserah kepada mereka.

LIMA :
FOSS, sesuai namanya, membuat Orang Indonesia (OI) saling bantu. Bayangkan, berapa banyak komunitas yang dibangun berideologikan FOSS. KPLI, Ubuntu-id, Fedora Indonesia, apa lagi ya ... banyak deh. Komunitas tersebut sulit terbangun jika cuma mengandalkan uang dan pencurangan a la cracker software komersil. Ini penerapan sila kelima Pancasila, "Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia." [serius] Pemberian bantuan antara mereka seringkali lebih karena landasan emotional value, ketimbangan rational value. Wah ... ini gerakan sosial baru yang hebat di Indonesia, lho!!!

ENAM :
FOSS, sesuai namanya, membuka mata Pemerintah Indonesia seputar koneksi Internet. Lho, kok nyerempet pemerintah, yang ngga enak lagi??? Bayangkan, berapa jam atau hari (bahkan minggu, kalau error terus) buat mendownload Fedora DVD berikut repository-repositorynya dengan koneksi saat ini. Sewaktu zaman Windows tulen jadi mainstream, masalah bandwidth internet Indonesia kayaknya ngga mencuat secara horizontal. Kini, dengan FOSS, masalah ini terkemuka. Banyak OI mendesak koneksi internet yang lecih cepat juga murah. Konklusinya, FOSS mendorong bandwidth internet (juga harga, dong) yang lebih layak bagi OI. Banyak bisnis adsense bisa dibangun OI jika koneksi internet bisa seperti itu.

TUJUH :
FOSS, sesuai namanya, membuat OI mengenal orang-orang di luar negeri. Saya bisa kenal sejumlah orang di luar negeri [meski mukanya ngga pernal lihat] oleh sebab FOSS ini. Rekan penulis bahkan sering dapat order dari orang luar negeri (bule gaceri, ngga ngecet sendiri) buat bikin web dengan CMS Joomla. Bukan sekadar uang, tetapi jaringan antarmanusia. Kabarnya rekan saya itu (laki, umur dah cukup tapi belum nikah) lagi pendekatan dengan rekannya bule perempuan yang masih single [nggossip, deh]. So, banyak deh rezeki dari FOSS ini, bahkan sampai hal-hal pribadi sekalipun!

Pengakuan :
Sebenarnya, 7 point mengapa Indonesia harus mengadopsi FOSS sudah banyak beredar di internet. Proses mimic dilakukan oleh saya, tapi saya juga berusaha keras, agar ke-tujuh-nya tampak orisinil. Sengaja saya tutup seluruh tab browser dan berupaya tidak melihat tulisan apapun, saat membuat ke-tujuh-nya. Tapi ... ya rekaman di otak kan susah juga menghapusnya. Nah ... itu sih terserah panitia deh. Sing penting, Maju Indonesian Free and Libre Open Sources Software !!!!! 

1 komentar:

  1. Ho...., hebat :-D

    Mari dukung terus lanjutkan!

    Pake FOSS bisa tambah mandiri dan nggak ketergantungan ama Amerika! Hhhihihi kok jadi politik sih? :-D

    BalasHapus

Ketik komentar anda. Pada Beri komentar sebagai pilih Name/URL jika anda tak memiliki Google Account. Lalu klik Publikasikan.